Epilog: Pulang

Nama Johor Bahru pertama kali saya dengar ketika sekolah dasar. Entah kelas 2 atau kelas 3, saya lupa. Pokoknya salah satu di antaranya.

Salah seorang teman sekelas—yang wajahnya mirip Maissy, penyanyi cilik yang wara-wiri di televisi Indonesia pertengahan dasawarsa 1990-an—baru saja kemalangan. Ibunya meninggal muda. Suatu hari, beberapa pekan setelah kepergian ibunya, ia dan saudaranya diboyong sang ayah ke sebuah kota di Malaysia. Nama kota itu “Johor Baru.”

Read More

Tahun Baru di Johor Bahru

Kami meninggalkan Bras Basah Complex lewat jalan lain yang lebih sempit ketimbang Bain St. Ada liukan sedikit yang membuatnya tampak lebih artistik.

Sisa-sisa petrikor bersekutu dengan aroma khas dapur restoran cepat saji, menguar, menggoreskan sesuatu pada pita memori. Di atas sana langit masih kelabu. Hujan rintik-rintik itu saya kira akan segera hilang—tapi tidak. Air malah kembali mengucur deras dari langit, memaksa kami berteduh di halte bus.

Read More