siem reap

Ke Siem Reap tapi Tidak ke Angkor Wat

Dormitory atau dorm di Tropical Breeze itu adalah akomodasi paling mewah yang saya inapi selama bertualang menelusuri Indochina dan Semenanjung Malaysia. Aircon-nya menyala sempurna, menjadikan kamar berisi tiga dipan-tingkat (bunk bed) itu suaka yang nyaman dari Siem Reap yang membara.

Dari kecil saya selalu terobsesi dengan dipan atas bunk bed. Jadi saya pilih tempat tidur bagian atas dipan yang sejajar dengan kamar mandi. Begitu punggung saya menyentuh kasur, mata saya langsung mengantuk. Saya pun tidur selama beberapa jam.

Read More
Iklan

The Country with Two Currencies

Soon as the last passenger sat in his seat, our bus dashed through the neutral zone separating Vietnam and Cambodia. The atmosphere was somehow changing. One minute later, when the bus finally reached the immigration post of the Kingdom of Cambodia, all of the passengers were ordered to get off.

Right beside the bus’s front door, two immigration officers had stood up, ready to retrieve our passports. I gave my passport suspiciously, so did Ching, a 27-year-old Chinese citizen who sat beside me on the bus. We entered the immigration post. Crossing the whole length of it, we ended up at the other end of the building—with no explanation whatsoever and no passport in our hand. Read More

Naik Kereta dari Thailand ke Malaysia

Bis itu berhenti dekat Pos Imigrasi Poipet, Kamboja. Saya masih terkekeh mengingat lelucon si Milad. Si botak berkacamata mirip gitaris System of a Down itu tadi memamerkan paspornya.

“Kadang petugas imigrasi curiga lihat pasporku. Soalnya fotonya beda sama penampilanku sekarang,” ia mengelus-elus kepala plontosnya. Di paspor, ia berambut tapi tak berjanggut. Sekarang berjanggut tapi tak berambut. “Jadi aku balik saja paspornya, terus bilang: ‘Nih saya yang sekarang.’”

Read More