Transit di Kuala Lumpur

Barangkali awal 2013—saya lupa-lupa ingat—sepulangnya dari melancong ke Malaysia, seorang kawan baik menghadiahi saya gantungan kunci. Bukan yang berbentuk Menara Kembar Petronas seperti oleh-oleh kebanyakan, tapi gantungan kunci berupa ukulele berbahan resin.

Waktu itu saya memang sedang senang-senangnya menggenjreng ukulele. Sejak berhasil menyanyikan “Blowin’ in the Wind” dengannya, instrumen musik berdawai empat itu sering saya bawa ke mana-mana. Hemat tempat soalnya. Muat di ransel. Nongkrong di kedai kopi, saya bawa. Pendakian rutin ke Gunung Api Purba, juga tak jarang saya bawa.

Read More

Naik Kereta dari Thailand ke Malaysia

Bis itu berhenti dekat Pos Imigrasi Poipet, Kamboja. Saya masih terkekeh mengingat lelucon si Milad. Si botak berkacamata mirip gitaris System of a Down itu tadi memamerkan paspornya.

“Kadang petugas imigrasi curiga lihat pasporku. Soalnya fotonya beda sama penampilanku sekarang,” ia mengelus-elus kepala plontosnya. Di paspor, ia berambut tapi tak berjanggut. Sekarang berjanggut tapi tak berambut. “Jadi aku balik saja paspornya, terus bilang: ‘Nih saya yang sekarang.’”

Read More