Rencana B

“Don’t think about what you’ll tell people afterward. The time is here and now. Make the most of it.” – Paulo Coelho, Aleph.

 

Empat menit setelah kereta berangkat, saya baru tiba di Stasiun Lempuyangan. “Sudah, mas,” jawab satpam stasiun ketika saya memastikan sekali lagi. “Sudah berangkat.”

Rencana yang saya susun berantakan sudah. Padahal ini baru perjalanan hari pertama! Dari seminggu yang lalu saya sudah mulai mencorat-coret jadwal di catatan, semacam itinerary sederhana yang detilnya saya sesuaikan begitu rupa dengan anggaran yang saya punya. Dalam angan, hari ini saya akan menumpang Kereta Api Ekonomi Sri Tanjung ke Banyuwangi. Saya hanya perlu duduk manis di dalam gerbong yang kini sudah dilengkapi pendingin ruangan, sesekali barangkali akan membuka Coelho yang saya bawa, sampai tiba di Banyuwangi kisaran pukul delapan malam. Setelah istirahat sejenak di sekitar pelabuhan, mengisi perut yang keroncongan, membiarkan mulut seharian masam merasakan nikmatnya kretek, saya akan menyeberangi Selat Bali dengan kapal roro kemudian sandar di ujung barat Pulau Dewata. Setiba di Gilimanuk, pukul tiga dinihari, saya akan menumpang bis langsung pertama yang bakal mengantarkan saya sampai tepat ke depan terminal keberangkatan Padang Bai. Baca lebih lanjut