Menuju Empang

Konon dua jenis ferry inilah yang berkeliaran di Selat Lombok: yang lambung kapalnya bergambar lumba-lumba, dan satu lagi yang tidak. “Yang ada lumba-lumbanya lebih bagus biasanya,” Jibi menjelaskan sementara kami melangkah di atas ubin keramik putih ruang tungggu pelabuhan yang sepi dan telantar, seusai menebus dua tiket kapal.

Kebetulan siang itu kami menumpang ferry jenis kedua. Sungguh nyaman di dalamnya. Pengondisi-udara ruangannya terasa. Kursinya empuk meskipun masih dipasang berhadap-hadapan. Hampir tiap pojok dihiasi televisi layar datar yang kali ini memutar film Fast and Furious semasa Paul Walker masih hidup. Mujur sekali memang. Dulu dalam perjalanan pulang ke Jawa seusai roadtrip motor Jawa-Lombok, kami dapat ferry yang mengenaskan; bangkunya kecil, tidak empuk sama sekali, sementara lantainya coklat karatan–bau pula. Di lantai karatan itulah saya menghabiskan setengah malam tidur berselimut kantong tidur. Oleng kanan, oleng kiri, kadang kepala saya berbenturan dengan tiang penyangga kursi.

Lanjutkan membaca Menuju Empang

Iklan

Ajaib

Meskipun Bali secara administratif masuk wilayah Indonesia, prosedur masuk via laut ke pulau itu agak berbeda; harus memperlihatkan kartu identitas. Saya telah mengisi data sejak setahun yang lalu namun belum menerima hak saya – e-KTP. Kartu identitas yang saya punya hanyalah KTP lama yang keadaannya sudah mengenaskan. Beberapa kali terkena rembesan air setelah berenang, tulisan dalam KTP itu pun menjadi kabur sehingga sulit dibaca.

Maka dinihari itu saya bersiap untuk mengeluarkan paspor jika TNI yang bertugas mengecek identitas tidak menerima KTP itu. Tapi ternyata tidak terjadi apa-apa. Setelah berusaha sedikit keras, tampak dari ekspresinya, tentara itu berhasil membaca biodata saya. Terima kasih pada kacamata yang ia pakai.

Lanjutkan membaca Ajaib

Rencana B

“Don’t think about what you’ll tell people afterward. The time is here and now. Make the most of it.” – Paulo Coelho, Aleph.

 

Empat menit setelah kereta berangkat, saya baru tiba di Stasiun Lempuyangan. “Sudah, mas,” jawab satpam stasiun ketika saya memastikan sekali lagi. “Sudah berangkat.”

Rencana yang saya susun berantakan sudah. Padahal ini baru perjalanan hari pertama! Dari seminggu yang lalu saya sudah mulai mencorat-coret jadwal di catatan, semacam itinerary sederhana yang detilnya saya sesuaikan begitu rupa dengan anggaran yang saya punya. Dalam angan, hari ini saya akan menumpang Kereta Api Ekonomi Sri Tanjung ke Banyuwangi. Saya hanya perlu duduk manis di dalam gerbong yang kini sudah dilengkapi pendingin ruangan, sesekali barangkali akan membuka Coelho yang saya bawa, sampai tiba di Banyuwangi kisaran pukul delapan malam. Setelah istirahat sejenak di sekitar pelabuhan, mengisi perut yang keroncongan, membiarkan mulut seharian masam merasakan nikmatnya kretek, saya akan menyeberangi Selat Bali dengan kapal roro kemudian sandar di ujung barat Pulau Dewata. Setiba di Gilimanuk, pukul tiga dinihari, saya akan menumpang bis langsung pertama yang bakal mengantarkan saya sampai tepat ke depan terminal keberangkatan Padang Bai.

Lanjutkan membaca Rencana B