Malam yang Jatuh Lebih Cepat di Siem Reap

Kamar mandi White River bagi saya biasa-biasa saja, meskipun pasti akan dicela oleh pengulas akomodasi dan restoran profesional. Ada wastafel di sana, klosetnya sudah duduk, nuansanya putih, dan ubin-ubinnya yang mulai pudar menegaskan bahwa kamar mandi itu sudah veteran. Entah sudah berapa ribu tamu hostel atau bar yang pernah ke sana.

Sekitar jam 6 pagi, setelah membersihkan badan di kamar mandi itu, saya check-out. White River sedang memulai kehidupannya. Pekerja hostel dan bar itu lalu-lalang, sebagian membersihkan ruangan, menata meja dan kursi, sebagian lain sibuk beraktivitas di dapur.

Read More

White River, Phnom Penh

Semalam saya sudah berkemas. Jadi, pagi itu, sekitar jam 6, saya hanya tinggal memanggul ransel, check-out, lalu jalan kaki ke arah kantor The Sinh Tourist. Dekat perempatan Buffalo, saya berhenti sebentar untuk membeli seporsi banh mi yang kemudian terburu-buru saya santap di depan The Sinh Tourist.

Saya terkekeh mendapati bahwa The Sinh Tourist ternyata malah memberi saya tiket bus Phnom Penh Sorya. Usai melapor, saya diminta menunggu. Ruang tunggu di dalam terlalu ramai, saya keluar saja. Tak berapa lama, seorang pria berusia tiga puluhan akhir—atau empat puluh awal—berseragam Phnom Penh Sorya datang menghampiri. Perawakannya seperti orang Kamboja.

Read More
Phnom Penh - Siem Reap

Naik Cambodia Post Minivan ke Siem Reap

Hari kedua di Phnom Penh saya pulang dalam kondisi capek bukan main. Itu muara dari usaha sia-sia saya untuk menemukan pesisir Sungai Mekong yang tampak dekat dalam peta tanpa skala yang saya bawa.

Pagi-pagi sekali hari itu, dari Boeung Kak saya jalan kaki ke Pusat Kota Phnom Penh. Langit biru cerah dan lalu-lintasnya masuk akal untuk ukuran ibu kota negara. Melewati permukiman sepi, saya lalu melipir ke pagar Wat Phnom sebelum tiba di Cambodia Post.

Read More

The Country with Two Currencies

Soon as the last passenger sat in his seat, our bus dashed through the neutral zone separating Vietnam and Cambodia. The atmosphere was somehow changing. One minute later, when the bus finally reached the immigration post of the Kingdom of Cambodia, all of the passengers were ordered to get off.

Right beside the bus’s front door, two immigration officers had stood up, ready to retrieve our passports. I gave my passport suspiciously, so did Ching, a 27-year-old Chinese citizen who sat beside me on the bus. We entered the immigration post. Crossing the whole length of it, we ended up at the other end of the building—with no explanation whatsoever and no passport in our hand. Read More