White River, Phnom Penh

Semalam saya sudah berkemas. Jadi, pagi itu, sekitar jam 6, saya hanya tinggal memanggul ransel, check-out, lalu jalan kaki ke arah kantor The Sinh Tourist. Dekat perempatan Buffalo, saya berhenti sebentar untuk membeli seporsi banh mi yang kemudian terburu-buru saya santap di depan The Sinh Tourist.

Saya terkekeh mendapati bahwa The Sinh Tourist ternyata malah memberi saya tiket bus Phnom Penh Sorya. Usai melapor, saya diminta menunggu. Ruang tunggu di dalam terlalu ramai, saya keluar saja. Tak berapa lama, seorang pria berusia tiga puluhan akhir—atau empat puluh awal—berseragam Phnom Penh Sorya datang menghampiri. Perawakannya seperti orang Kamboja.

Read More

Saigon

Bus akhirnya datang. Sekira jam 9 malam, pintu-pintu bagasi dibuka. Setengah jam kemudian, bus The Sinh Tourist itu mulai melaju, meninggalkan Danau Xuan Huong dan pendar warna-warni yang menghiasi permukaannya, meninggalkan kota Dalat yang sedang menggigil dibasuh gerimis.

Jalan yang semula hanya cukup untuk dua bus kemudian berubah menjadi jalan tol yang lebar dan mulus. Karena belum mengantuk, saya habiskan waktu dengan membaca autobiografi John Muir, naturalis legendaris pentolan Sierra Club yang namanya diabadikan sebagai sebuah trek lintas alam di Amerika Serikat bagian barat, John Muir Trail. Tapi lama-lama bosan juga. Saya pun mulai mengantuk, lalu tertidur.

Read More