Menuju Hanoi

Dengan perut penuh bánh tráng nướng, saya kembali ke hostel. Penat dan kenyang dan selimut hangat membuat saya cepat sekali tertidur. Pulas sekali tidur saya malam itu sampai-sampai mimpi tak kuasa unjuk gigi.

Begitu bangun, saya mendapati kamar dormitori sepi itu kedatangan orang baru. Mukanya, kalau dilihat sekilas, tipikal orang Filipina atau Thailand. Tapi bisa jadi pula bukan kedua-duanya. Ketimbang penasaran, lebih baik saya bertanya: “Are you from the Philippines?”

Read More

Fansipan

Saya tak tahu pasti apakah itu akhir musim gugur atau awal musim dingin, tapi indra saya tahu pasti bahwa Sapa di pergantian November-Desember itu dingin sekali. Siang hari, temperatur berkisar di belasan derajat Celsius, sekitar lima belas. Selepas jam 11 malam, suhu akan turun sampai sembilan derajat Celsius. Badan saya yang tropis perlu usaha ekstra untuk menyesuaikan diri.

Maka di sore hari pertama itu, sebagai usaha untuk beradaptasi, saya jalan-jalan sore menuruni jalan kecil nan licin ke arah lembah. Jalanan itu diapit kios-kios yang menjual peralatan outdoor yang diselingi oleh warung makan dan penginapan.

Read More

Pagi Pertama di Sapa

Perjalanan malam itu sebenarnya panjang, tapi terasa singkat; saya terlelap. Yang membuat saya cepat tidur adalah bokeh-bokeh sinar dari luar yang tertapis kaca jendela mobil, yang mengembun, atau diguyur hujan. Entahlah. Kalau ingatan ini tidak salah, saya terbangun ketika bis lewat sebuah monumen berbentuk kereta gantung—cable car menuju puncak Gunung Fansipan.

Saya bersama beberapa orang lain termasuk sepasang kekasih Jerman-Belanda itu diturunkan di depan Pasar Sapa. Jam tiga dini hari. Matahari masih tidur dan dingin menusuk tulang. Sebagai upaya menanti pagi, kami bergegas ke warung tenda di parkiran pasar, melarikan diri dari orang-orang yang menawarkan hotel bertarif di luar jangkauan. Ada tong berapi di sana. Saya pesan secangkir kopi hitam. Kedua kawan baru saya itu hanya meminta air hangat sebab mereka punya kopi sobek.

Read More