Singgalang

Adalah sebuah kesalahan tidak menggunakan baju berlengan panjang ketika mendaki Gunung Singgalang. Miang dari hutan pimpiang, bambu hutan berdiameter kecil yang mendominasi bagian awal pendakian, cukup untuk membuat gatal bagian tubuh sial yang tak dibalut kain. Bersandar pada sebuah tiang listrik, saya usap-usap gatal pada lengan.

Tengah hari saat itu. Adek, Teguh, dan saya baru saja menyelesaikan trek pimpiang. Kami bertiga berhenti sebentar demi menghormati orang-orang yang sedang salat jumat. Hening hanya beradu dengan merdu suara burung. Kepik menjerit-jerit ditingkahi hembusan angin. Sejuk sebab panas mentari meluruh ditapis kanopi hutan tropis. Udara segar merasuk ke dalam paru-paru, juga sagun bakar yang bersatu dengan air segar, semua mengalir beriringan menjejali kerongkongan.

Read More

Garis Khayal Khatulistiwa Bonjol

Saya termenung tepat di garis imajiner yang membagi bumi menjadi dua, khatulistiwa. Satu langkah ke utara, saya berada di lintang utara, begitu juga jika saya melangkah ke selatan, akan tiba di lintang selatan. Lama-lama di sini hobi saya bisa bertambah satu; latitude hopping.

Banyak yang berkecamuk dalam kepala; perasaan bingung, perasaan dibohongi mentah-mentah, kekecewaan. Apa pasal? Empat jam berkendara ke utara dengan motor matic hanya mengantarkan saya ke sebuah gerbang bertuliskan “Anda Melintasi Khatulistiwa” beserta terjemahan, dengan gedung bundar rusak di sisi baratnya.

Read More

Langkah (18): Mencari Rumah Kelahiran Bung Hatta

Sewaktu menghadiri acara berbuka bersama SMA tanggal 16 September kemarin, saya bertemu kembali dengan banyak kawan. Termasuk dengan seorang kawan bernama Aven yang rumahnya dengan rumah saya berdekatan dan dulu kami sempat sekelas sewaktu MOS. Sekarang dia kuliah di Bandung. Dalam urusan jalan-jalan, tabiat Aven ini setipe dengan saya. Spontan.

Setahun yang lalu dia tiba-tiba muncul di Jogja tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Tahu-tahu saja dia menelepon saya dan minta dijemput ke Stasiun Lempuyangan. Tahukah anda tujuannya main ke Jogja? Cuma mau mengunjungi SD lamanya. Itu sudah. Malamnya dia balik lagi ke Bandung. Saya cuma bisa memiringkan telunjuk di kening.

Malam berbuka bersama itu dia mengajak saya jalan-jalan. Rencana dibuat. Besok paginya kami berangkat ke Bukittinggi dengan satu misi: mengunjungi Rumah Kelahiran Bung Hatta (RKBH). Read More

Langkah (17): Pantai Carocok Nan Elok

Coba buka kembali tulisan saya sebelumnya. Pada kalimat terakhir di paragraf terakhir saya menuliskan, “Dan… tentu saja jangan lupa untuk turun di kawasan Bungus.”

Anda pasti bertanya-tanya apa yang akan terjadi seandainya kebablasan. Tidak, anda tidak akan dibawa ke negeri yang jelek, tandus, dan kering kerontang. Sebaliknya bis itu akan membawa anda ke sebuah daerah bergeomorfologi lengkap: Painan. Ibukota Kabupaten Pesisir Selatan yang di pesisirnya terletak salahsatu pantai terindah di Sumatra Barat. Pantai Carocok.

Saya diberitahu tentang keberadaan pantai ini oleh seorang kawan baik di SMA yang kebetulan berasal dari Painan. Selain pantainya memang indah, sunset di sini katanya juga indah. Nah, berbekal “promosi” itu dan sedikit riset, beberapa hari sebelum lebaran kemarin saya mengajak Ebiet, kawan lama saya, ke sana. Read More

Langkah (16): Padang Bay City

Saya tidak akan membahas megaproyek Padang Bay City yang sedang diancang-ancang Pemerintah Kota Padang itu. Alih-alih, saya akan menulis tentang perjalanan menyusuri pesisir bagian selatan Padang yang berteluk-teluk.

Seusai bertandang ke Batu Malin Kundang, masih di hari yang sama, saya dan Bleki melanjutkan perjalanan ke daerah Bungus. Bungus adalah nama sebuah teluk yang terletak bersebelahan dengan Teluk Bayur, tepat di sisi selatannya. Niatnya sih ingin melihat pemandangan Teluk Bayur dan Teluk Bungus dari perbukitan di sekitar Bukit Lampu.

Tak berapa lama setelah keluar dari jalan masuk Pantai Air Manis, kami tiba di Pelabuhan Teluk Bayur (PTB). Pelabuhan yang berperan sebagai “gerbang air” Indonesia bagian barat. Walaupun tidak masuk, melihat gerbangnya saja mampu membuat ingatan saya melayang ke masa SMA. Waktu itu saya lumayan sering ke Pelabuhan yang di zaman Belanda bernama Emma Haven Port ini. Read More

Pariaman: Geliat Yang Terhenti

Seluruh Indonesia pasti sudah tahu bahwa negeri ini kembali dilanda bencana gempabumi. Kebetulan yang kali ini dapat “jatah” adalah kampung halaman saya, Sumatra Barat. Tidak tanggung-tanggung, gempa dahsyat berkekuatan 7.6 Skala Richter ini merubuhkan banyak bangunan dan menelan korban jiwa sekitar 300 orang.

pantai pariaman crowdedSuasana lebaran di Pantai Gandoriah Pariaman

Menurut BMKG, pusat gempa berada sekitar 57 km baratdaya Padang Pariaman pada kedalaman 71 km. Lebih dekat daripada Padang yang berjarak 80 km dari episentrum. Walaupun Read More

Lebaran, Pistol, Dan Buayan Kaliang

Anak-anak di setiap daerah mempunyai tradisi yang unik dan berbeda dalam merayakan lebaran Idul Fitri. Jika anak-anak di Kampung Cigebar Desa Bojongsari Kabupaten Bandung langsung “nadran” ke makam leluhur sesaat setelah shalat Ied, anak-anak di desa saya di Pariaman malah langsung berbondong-bondong jalan ke Balai Kurai Taji. Tentu saja setelah bersalaman dengan kerabat dan mengumpulkan sedikit “jatah” lebaran.

lebaran anak-anak pariaman Read More

Langkah (15): Kutukan Malin Kundang

Alkisah, kapal Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu itu terdampar di sebuah pantai landai yang indah. Pantai Air Manis (Pantai Aia Manih) namanya.

Karena ini cuma legenda dan yang perlu dicermati dari legenda hanya hikmahnya, jangan tanya apakah Malin dan kapal dagangnya itu karam dulu baru kemudian menjadi batu atau menjadi batu dulu baru karam. Yang jelas di sudut selatan Pantai Air Manis teronggok bongkahan batu yang membentuk kapal besar terbelah dua, plus sesosok manusia dalam posisi bersujud yang diklaim sebagai Malin Kundang si Durhaka. Read More