Prolog: Terminal 2 Soekarno-Hatta

Hari keempat bulan November 2019 belum berakhir. Musim hujan yang semestinya sudah bikin tanah basah belum jua datang. Langit masih bersih. Awan kelabu masih bersembunyi entah di mana. Sisa-sisa dingin khas malam-malam musim kemarau masih menyelimuti Maguwo. Tapi angin sudah sedikit gelisah.

Nyonya berjalan menjauh dengan langkah-langkahnya yang biasa ke ujung timur Terminal B Bandara Adisutjipto. Dia memakai jaket jin Lee tebal yang saya temukan di Pasar Terong Makassar lebih dari setengah dasawarsa lalu.

Read More

Pasir yang hitam

Beberapa waktu yang lalu saya ke Pantai Sadranan bersama kawan-kawan. Sudah sore ketika saya menyentuh pasir lembut berwarna kremnya. Seperti biasa, saya langsung meletakkan ransel, membuka baju dan sandal, lalu menceburkan diri ke dalam ombak yang menggulung. Agak besar memang, musim sedang basah dan berangin kencang. Berbahaya kata orang. Tapi bukankah manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri?

Saya biarkan air laut yang asin dan dingin meraba kulit, menyentuh tepian lubang pori-pori saya yang mengecil karena dinginnya temperatur. Terpikir, betapa air adalah petualang ulung. Wujudnya yang cair membuat partikel-partikelnya mampu menjelajah ke tempat-tempat yang tak masuk akal. Air yang menyentuh kulit saya ini mungkin pernah berada di kutub selatan, setelah mengalami kondensasi dan terangkat dari sesungai amazon yang lebar dan legendaris.

Read More

What doesn’t kill you

Tangan saya meraih-raih sekuat tenaga mencari pegangan yang tak kunjung ditemukan. Tubuh ini tetap saja merosot dan tergerus kerikil tajam. Perih. Teguh dan Eka yang berada di bawah memanggil-manggil nama saya dengan cemas. Saya tahu sejenak lagi mereka pasti akan menahan napas, saya sudah di ujung punggungan kecil itu dan sedikit lagi akan jatuh menggelinding ke dalam mulut jurang.

Tekad untuk bertahan hiduplah yang menyelamatkan saya. Setengah mati saya dekapkan tubuh ke tebing kemudian saya tahan lajunya dengan perut. Berhasil, saya berhenti merosot. Kedua kawan bernapas lega. Di atas tebing yang stabil, saya duduk sambil menghela napas panjang. Di bawah, sambil sesekali tertutup kabut, tampak Pasar Bubrah, camp terakhir Gunung Merapi sebelum puncak, ramai dihiasi tenda beraneka warna. Hari ini Merapi sedang berbaik hati, saya tidak jadi ditelannya. Mungkin karena ia ikut bersuka cita menyambut tahun baru 2013.

Read More

Di Jalan Daendels

Keajegan itu melenakan. Tadi, selama beberapa saat saya harus berkonsentrasi berkendara di jalan bukit selepas Pantai Ayah. Sekarang kami berada di Jalan Daendels Selatan yang lurus bukan main. Membujur sekitar 150 kilometer dari Cilacap sampai Purworejo. Mata saya harus bekerja ekstra menahan kantuk yang sesekali datang menyerang. Terkadang motor yang kami tumpangi oleng kanan-kiri karena berpapasan dengan truk. Jalan militer yang dibangun pada dekade pertama abad ke-19 itu menyusur pesisir selatan Jawa, berjarak sekitar satu kilometer dari pantai. Jejeran pepohonan kelapa seolah secara sukarela memagari Jalan Dandels dari ganasnya Samudra Hindia. Saat itu pagi menjelang siang namun matahari sudah garang. Bahkan, sesekali saya dapat melihat fatamorgana di kejauhan; awalnya tampak seperti genangan air di tengah jalan, namun setelah didekati ia hilang. Lagu “This Time Tomorrow” gubahan The Kinks terngiang-ngiang dalam kepala saya.

Read More

Mpok Tunggal

Orang yang pernah ke Sundak atau Siung pasti tidak akan susah menemukan pantai ini. Letaknya hanya beberapa kilometer ke timur dari pos retribusi Pantai Indrayanti. Di tepi jalan anda akan menemukan jalan masuk kecil dengan papan bertuliskan Pantai Mpok Tunggal. Jalannya belum diaspal, hanya diberi semen dua lajur yang hanya pas untuk satu mobil. Pastikan kendaraan yang anda bawa dalam keadaan fit sebab beberapa ruas bahkan belum disemen.

Read More

Di Haribaan Nglanggeran

Di sinilah saya. Duduk bersila bersama kawan-kawan di pucuk undakan breksi andesit di sebuah situs kemping. Barangkali hanya terpaut 20 meter dari puncak Gunung Nglanggeran. Kaki langit tampak semarak dengan kemerlap lampu sejuta warna. Sangat kontras dengan langit malam yang sepi gemintang. Mestinya kami naik kemarin malam, ketika langit telanjang tanpa selimut awan. Tapi tak mengapa, toh tujuan bukan segalanya.

Read More

Lamunan Gesing

Pesisir selatan Pulau Jawa dihiasi deretan pantai yang memanjang dari barat ke timur. Dari Gunung Kidul sampai ke ujung Jawa Timur. Tipikal pantai-pantai tersebut mirip; pantai pasir putih, dihiasi dengan karang dan perbukitan batugamping. Namun meskipun hampir serupa, masing-masing pantai memiliki keunikan tersendiri.

Sabtu lalu angin membawa Deli, Eka, dan saya ke Pantai Gesing yang terletak di Kecamatan Panggang, Gunung Kidul. Kami sebenarnya ingin mencari pantai tersembunyi bernama Wokudu, yang semalam ditemukan Deli ketika berselancar di internet. Pantai Wokudu yang masih jarang dijamah ini, menurut informasi, terletak sekitar satu kilometer dari Gesing. Entah ke barat, entah ke timur. Keterbatasan waktu menyebabkan pencarian kami hanya berakhir sampai Pantai Gesing.

Read More

Ngayogjazz Edisi Kotagede

Yang paling menarik dari Ngayogjazz 2011 seminggu yang lalu adalah venue-nya. Kotagede didaulat sebagai lokasi perhelatan dan panitia sukses menyulap seputaran pasar kotagede menjadi kampung jazz selama sehari. Sungguh eksotis; sisa-sisa kejayaan masa lalu berupa gedung-gedung  tua dipadukan dengan alunan musik jazz. Penonton seperti diombang-ambing dalam mesin waktu.

Read More