“Aku batal,” tulis Mas Ose via aplikasi bertukar pesan. “Ono undangan arisan RT.”
Saat mampir ke rumah Wahyu di Giwangan semalam kami sepakat untuk gran fondo ke Secang hari ini jika cuaca cerah. Ternyata cuaca benar-benar cerah. Di musim hujan seperti ini mendapati cuaca cerah terasa seperti ditawari beasiswa. Sayang untuk dilewatkan.
Maka sekitar pukul 14.15 WIB di hari pertama Maret 2026 mengayuhlah saya sendirian ke arah utara. Saya pakai gigi depan kecil dan gigi belakang enteng demi menjaga hitungan detak jantung di zona aerobik. Setiap beberapa menit sekali saya melihat jam untuk mengecek. Jika keluar dari rentang yang diharapkan saya akan mengayuh dengan lebih santai.
Bersepeda secara santai membuat segmen membosankan antara Tempel dan Muntilan serasa berlalu dengan cepat. Dari jalan lebar menurun selepas Pasar Muntilan langit utara tampak kelabu pekat. Saya pasrah saja menerima ujian semesta. Kalaupun nanti langit benar-benar memuntahkan airnya, setidaknya saya tak kehujanan dari awal sampai akhir. Pertigaan Borobudur dan Blondo pun sudah di belakang dan akhirnya saya mengayuh di jalan datar Mertoyudan. Namun hujan tak kunjung turun.
Dari lampu merah Artos yang abadi itu saya terus ke arah alun-alun menyusuri jalan yang teduh dan menanjak. Sebenarnya akan lebih cepat lewat Jalan Bypass. Tapi sampai Terminal Tidar aspalnya kurang bagus. Dari sadel sepeda terasa sekali undulasinya. Sekali waktu BengBeng saya bahkan pernah jatuh dari tas depan saat meluncur di turunan tajam sebelum terminal.
Gerbang Kerkhof pun terlewati dan jalanan makin ramai oleh penjual takjil. Dari lampu merah di ujung jalan saya belok kanan menuju alun-alun. Semula saya meluncur di jalur khusus sepeda. Namun menjelang alun-alun jalur sepeda itu berubah jadi lahan parkir sepeda motor. Saya pun pindah ke jalur biasa.
—
Masih sekitar jam setengah lima sore ketika saya tiba di tanjakan selepas keramaian Payaman. Ruas ini bagi saya agak mengerikan. Tak jarang mobil pribadi, pikap, atau bis menyalip dari kiri melanggar marka pembatas jalan. Keliru sedikit saya bisa disundul dari belakang. Saya pun berusaha konsisten di pinggir. Kecepatan saya masih stabil dan detak jantung masih bermain di zona aerobik. Saya suka ritme seperti ini. Badan tidak cepat letih.
Warung timlo di selatan gardu PLN rupanya sudah rata dengan tanah. Saya berhenti sebentar dan mengambil satu-dua bingkai foto. Beberapa bulan lagi mungkin di tempat ini sudah ada bangunan baru dan lanskap akan tampak beda.
Tanpa terasa semua tanjakan menuju Secang pun terlampaui. Kini saya hanya perlu mengayuh santai di jalan yang relatif datar. Belum sampai jam lima sore ternyata. Waktu berbuka masih satu jam lagi. Tahun kemarin saya tiba di sini beberapa menit setelah buka puasa, sebab saya berangkat dari Jogja lebih sore. Di depan Terminal Secang saya mengambil ancang-ancang untuk menyeberang. Begitu kosong, saya balik kanan.

—
Azan berkumandang ketika saya baru saja masuk jalan searah yang melingkari Muntilan. Saya ambil bidon dan saya segarkan badan dengan air putih. Karena sudah dekat dengan Jogja saya tak berminat mampir di warung makan. Nanti saja saya bungkus nasi ayam plus tahu di warung nasi padang di Medari. Kalau buka.
Salah satu hal yang menarik dari rutin olahraga adalah saya bisa mengenal tubuh sendiri dengan lebih baik. Saya sudah paham bahwa dalam keadaan puasa badan saya bisa diajak naik-turun Kaliurang—sampai Tlogo Nirmolo alias Gua Jepang. Makanya saya tak ragu untuk bersepeda ke Secang sore hari di bulan puasa.
Setelah meliuk-liuk di Muntilan saya pun tiba di jalan besar yang menghubungkan Jogja dan Magelang. Ritme saya masih terjaga di jalanan yang sedikit menanjak dan menurun itu. Saya pun mulai mengantisipasi tanjakan terakhir sebelum Tempel. Begitu tiba di awal tanjakan, saya pindahkan gigi belakang ke yang lebih enteng dan saya kayuh pedal lebih cepat. Rupanya tanjakan itu terasa makin bersahabat dan saya bisa menjaga kecepatan di atas 20 km/jam. Di ujung tanjakan saya tersenyum sendiri menikmati perubahan persepsi yang inkremental itu.
Lalu saya biarkan gravitasi menarik saya turun sampai gapura batas DIY-Jawa Tengah, terus dan terus sampai Jembatan Tempel yang malam itu tampak anggun disorot cahaya dari bawah. Selewat lampu merah saya mulai memperlambat laju, bersiap-siap untuk berhenti di minimarket mencari minuman manis dan cairan isotonik.
—
Saya baru saja menaruh sepeda ketika Mas Ose memberi kabar bahwa ia akan ikut bersepeda ke Tebing Breksi malam itu. “Yen iwir-iwir aku gelem melu Breksi,” tulisnya. Ide ke Breksi keluar dari Wahyu. Ito juga ikut. Sebenarnya saya agak ragu untuk ikut ke Tebing Breksi. Tapi karena Mas Ose bilang bahwa kami akan bersepeda pelan-pelan saja saya jadi berminat. Saya baru pulang dari Secang. Rasa-rasanya tak bijaksana kalau setelahnya saya kembali memaksa badan untuk kembali bekerja keras. Saya pun segera menghabiskan nasi padang, bongkar muat, lalu bergerak ke titik kumpul.
Selain janji untuk pelan-pelan, yang bikin saya mau ikut adalah keinginan melanjutkan tradisi. Tahun kemarin di bulan puasa, persis setelah saya fondo ke Secang juga, kami juga bersepeda bersama. Tapi tujuannya lain, yakni Bukit Bintang. Waktu itu saya dan Ito baru berkenalan. Pertemuan perdana kami tanggal 2 Maret 2025, bulan puasa, saat saya sedang bersepeda di malam hari ke Pakem. Sebelum Pasar Gentan, saya dipepet seorang pesepeda yang menumpang Strattos S2. Selang sebentar hujan turun dan pesepeda itu mengajak berteduh. Kami pun berkenalan.
“Rei,” katanya.
Tapi ternyata itu suku kata pertama dari nama depannya. Di kemudian hari saya memanggilnya Ito. Malam itu ia sebenarnya ingin ke TPR Kaliurang. Karena itu bulan puasa dan saya sudah lama tak ke atas, saya barengi saja ia. Beberapa hari kemudian Ito kembali mengajak ke Kaliurang. Mas Ose ikut juga waktu itu. Saat kami sedang berhenti di sebuah minimarket di utara UII, Ito memasukkan saya ke grup yang isinya dirinya, Mas Ose, dan Wahyu. Seterusnya kami jadi sering bersepeda bersama.
—
Setelah menghampiri Wahyu di Amplaz, kami berempat melaju ke timur. Bersepeda pelan-pelan tinggal wacana. Wahyu dan Mas Ose menarik peleton kecil kami dengan kecepatan lebih dari 30 km/jam. Dalam sekejap saya pun berkeringat dan diolok-olok Ito.
Dari jembatan kembar Prambanan kami belok kanan ke arah Jalan Prambanan-Piyungan lalu dengan hati-hati menyeberangi perlintasan kereta api. Jalan menjadi lebih gelap. Beberapa menit kemudian tiba-tiba saja saya merasakan hentakan. Rupanya saya menghantam lubang. Lumayan dalam, sepertinya, sebab jari tengah tangan kiri saya sampai tergencet tuas rem dan sepertinya berdarah. Ban depan pun terasa oleng. Ketika agak terang, terbuktilah bahwa ban depan memang agak oleng. Sialan! Besok saya mesti ke bengkel berarti. Perasaan saya jadi agak tak karuan. Mas Ose ternyata melihat kejadian tadi. “Ra popo to?” ia bertanya. “Aman!” jawab saya.
Lalu kami belok kiri menuju jalan lebar yang sudah sering saya lihat—tapi belum pernah saya lewati—itu. Penerangan masih minim tapi aspalnya mulus. Kami terus mengikuti Wahyu menyusuri jalan itu. Kemudian samar-samar saya bisa melihat, menyeruak di antara dua tebing, disinari cahaya lampu, jalan lebar yang menanjak. Sepertinya itulah tanjakan yang tempo hari saya lihat di akun Instagram Bambang Anggoro Jati sang pesepeda ultra.
“Tembok kae, Jo!” ujar Ito berkomentar.
“Astaga!” respons saya.
“Rekam, Jo!” Ito berteriak.
Tapi saya mesti memasang gigi paling enteng terlebih dulu. Ini tanjakan serius.
Begitu tanjakan dimulai kayuhan langsung terasa berat. Tapi semestinya tak seberat ini. Saya pun kembali memainkan tuas pemindah gigi. Ternyata saya belum sampai ke gigi yang paling ringan. Setelah rantai duduk di roda gigi yang saya harapkan, kayuhan terasa lebih enteng. Sekarang saya cuma perlu memutar pedal secara konsisten. Tapi tanjakan ini panjang juga ternyata.
Jalan besar itu kemudian menggarpu menjadi dua dan Wahyu memandu kami ke jalan sebelah kiri. Di depan sana saya lihat Mas Ose menepi ke kanan. Semula saya kira ia hanya hendak mengambil ancang-ancang sebelum berbelok. Ternyata ia berhenti. Tapi saya tak berhenti. Saya terus saja mengayuh sepeda itu, berbelok ke kiri, sampai akhirnya ada seseorang yang berkata, “Mandeg sik!”
Kami berhenti persis di percabangan jalan. Beberapa puluh meter ke atas sana jalan sudah kembali mengecil. Setelah sepeda terparkir barulah saya bisa leluasa melihat ke bawah, ke arah lautan sinar lampu yang berpendar-pendar seperti kunang-kunang.
Lalu kepala saya mulai terasa agak ringan. Kurang gula, barangkali. Selama fondo tadi, jam saya mencatat bahwa saya menghabiskan sekitar 2.500 kkal. Teh kotak, minuman isotonik, dan nasi padang tadi sepertinya tidak cukup untuk mengisi ulang bahan bakar yang sudah dikonversi tubuh menjadi energi. Detak jantung saya pun dari tadi selalu tinggi sebab kawan-kawan bersepeda seperti kesetanan mulai dari Amplaz. Tampaknya saya perlu menenangkan diri. Saya ambil sebatang rokok lalu saya sulut. Sudah sekitar dua-tiga minggu ini saya mengurangi konsumsi rokok. Tapi sekarang sepertinya saya perlu merokok.
Di sebelah sana Wahyu sedang memotret Ito dalam berbagai pose.
“Ayo foto!” Ito berteriak memanggil.
“Ambegan sik!” balas saya.
—
“[Tanjakan] master-e ono loro,” jelas Wahyu begitu kami mulai mengayuh lagi. “Ngarepan kono karo mburine.”
Saya tetap paling belakang. Di depan saya Ito tak henti-hentinya mengumumkan berapa persen gradien tanjakan yang sedang kami lewati.
“Wolulas! Songolas!”
“Nek aku mending rasah ngerti,” balas saya sambil terkekeh. Tapi sepertinya ia tak mendengar. Ia terus saja mengumumkan gradien tanjakan.
Tanjakan ekstrem pertama lewat, begitu juga yang kedua. Setelahnya jalanan masih menanjak namun gradiennya sudah tak segila tadi. Mas Ose, Wahyu, dan Ito sudah jauh di depan sana. Saat kelipan lampu belakang sepeda Ito tak kelihatan lagi, saya menepi sebentar untuk istirahat. Tubuh saya sepertinya memang belum pulih setelah fondo ke Secang tadi sore.
Satu-dua menit kemudian saya melanjutkan perjalanan. Pelan-pelan sekali. Saya menunduk seperti anak sekolah sedang mengheningkan cipta. Letih melihat ke bawah, saya pun menengadah dan mendapati bahwa di depan sana Ito sudah berjaga-jaga dengan kameranya, siap untuk merekam saya. Ternyata tempat saya berhenti tadi hanya sekitar seratus meter dari pertigaan Tebing Breksi.

“Sego padange wes entek meneh,” ujar Mas Ose sambil terkekeh begitu saya tiba di pertigaan.
Kami berhenti sebentar di pertigaan lalu masuk ke kawasan Tebing Breksi. Masih ada yang berjaga di pos retribusi, tapi pengunjung sudah tak ada lagi. Maklum, sudah dekat tengah malam.
Dari jalan yang terbuat dari batu disusun seperti di segmen-segmen Paris-Roubaix itu kami pun menanjak melewati jalanan beton.
“Divideo ra?” tanya Ito.
“Hah?!”
Saya sudah tak bisa berpikir lagi. Kedua betis saya seperti hendak kram. Konsentrasi saya hanya ke tubuh saya sendiri. Sepertinya minuman isotonik yang saya teguk di Tempel tadi masih kurang. Saya sesuaikan kayuhan agar saya tak benar-benar kram. Ternyata bisa. Akhirnya saya merasa jalan menjadi datar. Ketiga kawan itu sudah mulai sibuk berfoto. Saya teruskan mengayuh sampai ujung untuk menurunkan hitungan detak jantung.
“Komentarnya?” tanya Ito begitu saya berhenti di dekat mereka.
“Anda semua laknat!” jawab saya.
Wahyu sedang sibuk menjelaskan titik yang bagus untuk berfoto. Sementara Mas Ose di depan sana malah sibuk memanggil anak kucing.
—
Kami berpisah di Tugu. Wahyu ke selatan, sementara kami bertiga ke utara lewat Jalan Magelang. Hujan semakin deras dan kilat menyambar-nyambar. Sebentar lagi perjalanan kami akan berakhir. Tenaga saya mulai menipis—jam pintar pun berteriak-teriak kalau latihan saya eksesif—tapi saya masih menikmati semuanya. Barangkali karena saya tahu bahwa rasa letih ini di masa depan akan kami kenang dengan tawa.
woh.. sepertinya seru sekali.. saya kok jadi pengen punya sepeda lagii..