Karakoram

Dari jalan besar, Lily memasuki lorong sempit. Ezek dan saya mengikuti dari belakang. Yakety Yak, hostel yang ditemukan Lily dalam aplikasi, tersembunyi di salah satu sudut gang itu. Terbiasa melihat plang-plang yang dipasang tak beraturan di Jogja, saya serta-merta memasang mata lekat-lekat mencari tanda-tanda keberadaan hostel itu.

“Semestinya di sekitar sini,” ujar Lily sembari melihat ponselnya, ketika kami sampai di depan bentukan seperti pintu.

Read More

Menuju Thamel

Akhirnya saya menapakkan kaki di Bandar Udara Tribhuvan, Kathmandu. Di sebelah sana, pesawat ATR bernomor seri 9N-AJO sedang berbelok. Baling-balingnya sudah berputar kencang—dan nanti akan semakin kencang menjelang digeber di landasan pacu. Pesawat itu milik maskapai yang namanya barangkali paling spiritual: Buddha Air.

Udara dingin ujung musim gugur menyelinap lewat pori-pori jaket Rei yang membalut tubuh saya. Tak terasa sudah cukup lama jaket usang ini menjadi kawan bertualang. Jahitannya mulai lepas, warnanya mulai pudar; digerus angin gunung, ditiup bayu samudra.

Read More

Sepotong Himalaya

Sembari memasang sabuk keselamatan, kepala saya menoleh ke jendela mungil pesawat. Rona pagi memenuhi langit. Halimun tipis mengambang di apron. Sementara itu, di dalam kabin para awak mulai lalu-lalang menutup kompartemen bagasi. Suara “klak!” bersahutan. Gerak mereka membuat udara dipenuhi aroma elegan.

Kemudian pintu pesawat ditutup. Sang burung besi mulai bergerak. Mula-mula ia mundur, lalu berbelok kikuk mengubah haluan menuju landasan pacu. Saat menyimak pramugari memberikan pengarahan, kelopak mata saya menjadi berat. Kantuk sedang bersiap-siap menyergap. Lelah mulai terasa, mengirim sinyal pada tubuh ‘tuk segera istirahat. Goyangan pesawat mulai membuai.

Read More

Prolog: Terminal 2 Soekarno-Hatta

Hari keempat bulan November 2019 belum berakhir. Musim hujan yang semestinya sudah bikin tanah basah belum jua datang. Langit masih bersih. Awan kelabu masih bersembunyi entah di mana. Sisa-sisa dingin khas malam-malam musim kemarau masih menyelimuti Maguwo. Tapi angin sudah sedikit gelisah.

Nyonya berjalan menjauh dengan langkah-langkahnya yang biasa ke ujung timur Terminal B Bandara Adisutjipto. Dia memakai jaket jin Lee tebal yang saya temukan di Pasar Terong Makassar lebih dari setengah dasawarsa lalu.

Read More

Pinggir Danau Kintamani

Ingatan saya soal pendakian menuju puncak Gunung Batur sudah samar. Jika dipaksa membongkar laci memori, barangkali saya hanya bisa merogoh beberapa kepingan.

Kami mulai jalan sekitar jam 2 atau 3 dini hari. Berlima. Kawan-kawan ketika itu adalah V, S, dan dua orang keponakan J yang masih remaja. Tak ada rombongan pendaki lain yang kami jumpai di bawah, mungkin karena kami masuk lewat lawang yang biasanya hanya dilalui warga lokal.

Read More

1000 Tahun Lamanya

Saya dan kawan-kawan adalah sedikit di antara manusia yang turun ke dermaga Pelabuhan Nusa Penida sore itu tanpa baju putih, udeng, saput, dan kamen. Kami memang tak hendak beribadah, sekadar ingin pelesiran saja.

Lupa saya siapa yang melempar ide untuk kemping di Nusa Penida. Yang jelas akhirnya kami berangkat berempat. Rio dan Westi yang cari jalan. Mereka memang tinggal di Bali; saya dan Ucok hanya mampir. Mereka jelas lebih tahu Bali. Kami jadi pengikut yang baik saja. Soal tempat yang akan dituju, tempo hari mereka menyebut satu nama, tapi saya lupa.

Read More

Epilog: Pulang

Nama Johor Bahru pertama kali saya dengar ketika sekolah dasar. Entah kelas 2 atau kelas 3, saya lupa. Pokoknya salah satu di antaranya.

Salah seorang teman sekelas—yang wajahnya mirip Maissy, penyanyi cilik yang wara-wiri di televisi Indonesia pertengahan dasawarsa 1990-an—baru saja kemalangan. Ibunya meninggal muda. Suatu hari, beberapa pekan setelah kepergian ibunya, ia dan saudaranya diboyong sang ayah ke sebuah kota di Malaysia. Nama kota itu “Johor Baru.”

Read More

Tahun Baru di Johor Bahru

Kami meninggalkan Bras Basah Complex lewat jalan lain yang lebih sempit ketimbang Bain St. Ada liukan sedikit yang membuatnya tampak lebih artistik.

Sisa-sisa petrikor bersekutu dengan aroma khas dapur restoran cepat saji, menguar, menggoreskan sesuatu pada pita memori. Di atas sana langit masih kelabu. Hujan rintik-rintik itu saya kira akan segera hilang—tapi tidak. Air malah kembali mengucur deras dari langit, memaksa kami berteduh di halte bus.

Read More

Bras Basah Complex

Dari Stasiun Nicoll Highway, kami jalan kaki menuju ABC Hostel. Merujuk aplikasi peta di ponsel Nyonya, penginapan itu tak jauh dari sana. Lokasinya di Jalan Kubor. Kami hanya perlu jalan kaki beberapa kilometer. Memang masih terlalu pagi untuk check-in. Tapi menemukan hostel itu sesegera mungkin rasanya lebih baik ketimbang terlalu lama luntang-lantung di jalan.

Kami menyeberangi perempatan beberapa kali. Setiap hendak menyeberang, kami mesti berdiri menunggu sampai lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Langkah saya ringan dan tak tergesa-gesa ketika menyeberang. Saya menikmatinya. Senang sekali rasanya mendapati penyeberangan-bersetrip itu benar-benar berfungsi.

Read More