Lubang di Bukit Siguntang

Agustus 17, 2015

Dalam sebuah perjalanan yang berlangsung berminggu-minggu terkadang engkau merasa menjadi terlalu terbiasa untuk berpindah angkutan; dari kereta ke kereta, dari bis ke bis, dari kapal ke kapal. Apa yang kau rasakan, apa yang kau lakukan, secara aneh berubah jadi rutinitas. Semua yang awalnya menyenangkan perlahan berubah menjadi biasa, kemudian memuakkan.

Tak ada yang istimewa dari berganti-ganti moda transportasi. Apalagi ketika melihat cahaya lindap di rumah-rumah yang kau lewati di malam hari, dengan siluet orang-orangnya yang tampak nyaman bercengkerama di ruang keluarga, berbagi kisah yang mereka alami sepanjang hari yang keras dan melelahkan. Hangat. Kehangatan yang jauh lebih menenangkan ketimbang sumuk berbalut keringat dalam bis yang melaju di pulau ribuan kilometer jauhnya dari rumah.

Seperti hari itu ketika saya meloncat ke dalam oto selanjutnya yang membawa saya melintasi Flores. Setelah melambaikan tangan pada sepasang orang California itu—mereka menuju ke Labuan Bajo—oto menderu ke arah Maumere. Kering sepanjang perjalanan. Bulan Agustus ketika itu dan hujan belum turun di Nusa Bunga. Meliuk-liuk oto itu di antara hijau pegunungan, diawasi oleh pohon-pohon lontar yang menjulang di sana-sini, yang tampak seperti remaja kurus kering berambut landak.

Namun ketika kesepian menyerang, ada saja orang yang datang untuk mengisi hari-hari saya. Mereka muncul dari tempat yang tak terduga. Hari itu ia muncul dari bagian belakang bis tempat saya mengistirahatkan pantat dalam perjalanan sekitar tiga jam.

Pengeras suara oto tiba-tiba mendengungkan sebuah lagu yang iramanya saya kenal. Tak mungkin saya keliru. Ini lagu Minang!

“Wah! Lagu Minang ini, Pak,” secara spontan saya nyeletuk. “Yang punya bis orang Minang?”

Kondektur itu tertawa.

“Bukan,” katanya ia cuma suka iramanya.

Engkau harus merasakan mendengarkan lagu berbahasa daerahmu diputar di tempat yang jauh. Rasanya aneh. Sama anehnya seperti ketika di Ende kemarin. Suatu malam saya kelaparan setelah memandang matahari terbenam di dermaga. Di pojok pasar saya melihat sebuah rumah makan Padang. Hampir dua minggu tidak menyantap makanan bersantan, dengan langkah yakin saya masuk ke restoran itu. Maksud hati ingin memesan dengan bahasa Minang, saya keder duluan ketika mendengar orang di samping saya bertransaksi menggunakan bahasa Jawa. Absurd sekali: orang Jawa menjual masakan Padang di Flores.

20140829_112742

Anyway… Akhirnya saya tiba di Maumere yang lengang. Dari terminal saya meloncat ke atas ojek lalu meluncur ke Kantor Pelni untuk membeli tiket kapal ke Makassar. Harganya 222.000 tapi kenyataanya saya mesti membayar 240.000 setelah ditambah dengan tetek bengek entah apa.

Setelah persoalan tiket beres, saya minta diantar ke ATM, terus ke pelabuhan. Kapal saya berangkat esok pagi. Malam itu saya akan menginap di pelabuhan. Sebelum diizinkan memasuki area ruang tunggu, tiket dan identitas saya diperiksa oleh petugas yang berjaga di depan.

Sore itu dermaga Maumere begitu padat sebab mestinya malam ini sebuah kapal akan berangkat ke Surabaya. Jadwal yang tak menentu menyebabkan para penumpang datang lebih awal. Jika di Jawa sebuah moda transportasi adalah opsi, di sini kapal bisa dibilang adalah satu-satunya kendaraan untuk menuju dunia luar—selain pesawat yang tiketnya hanya bisa ditebus oleh kalangan beruang.

Bagian dalam terminal sudah penuh oleh calon penumpang yang duduk dan berbaring di atas kardus kumal, entah bosan entah penat. Tidak mendapat tempat, saya pergi ke teras belakang.

Kapal besar yang akan mengantar penumpang menuju Surabaya sudah tertambat rapi di dermaga, diam seperti raksasa sedang tidur. Anak-anak penjual kardus berlapis karung untuk alas tidur lalu-lalang di halaman belakang. Tidak jera mereka walaupun dagangannya berkali-kali ditolak oleh orang-orang dewasa. Beberapa di antara mereka menghampiri saya. Adalah ‘kesalahan’ ketika memutuskan untuk membeli satu, sebab melihat itu anak-anak lain ikut-ikutan mengerumuni saya.

The Moke Story

Ransel saya taruh di tangga teras. Sambil menghisap rokok, saya memandang ke lautan yang melatari kapal besar jurusan Surabaya itu. Air tenang dan jernih, beberapa pulau mengambang di cakrawala. Hal yang biasanya, jika di kamar kos, hanya bisa saya nikmat lewat layar laptop.

Lewat bukaan di lambung kapal, barang-barang yang dibawa oleh truk dimasukkan satu per satu. Sekali waktu serombongan siswa SMK bidang pelayaran datang membawa alat-alat pembersih kapal. Setelah tugas rampung, mereka menceburkan diri ke laut dan berlomba-lomba naik ke dek melalui mooring rope yang digoyang-goyangkan oleh kawan-kawannya. Seru sekali kelihatannya.

Di teras saya berkenalan dengan Nelson, anak Malang Kota Lama yang akan kembali ke Jawa setelah menemani ayahnya pulang kampung. Tato yang menempel di badannya ternyata sama sekali tidak merefleksikan kepribadiannya. Ia ramah sekali. “Ebesku orang Lembata,” ujarnya. “Baru sekali ini aku pulang kampung.”

Katanya, tak ada apa-apa di kampungnya yang terkenal dengan perburuan ikan paus itu. Membosankan, imbuhnya. Ia geli melihat kenyataan bahwa kampungnya begitu terisolir, berbeda sekali dengan Malang yang kosmopolitan. “Tapi kalau malam hari bintang-bintang kelihatan semua,” ujarnya sambil tersenyum.20140830_072932

Saya dapat membayangkan betapa sepinya Lembata yang terpencil. Jika Labuan Bajo, Ruteng, Bajawa, Ende, dan Moni saja bisa sesepi itu, dapat dikira seberapa lengang Lembata. Kesepian di sana barangkali hanya bisa ditawar oleh moke, minuman keras tradisional yang berasal dari proses penyulingan buah lontar. Di Manggarai, minuman serupa moke dikenal dengan sebutan sopi. Sekali waktu di bis, entah di etape mana, saya mendengar sebuah lagu reggae yang mendendangkan syair tentang sopi dan moke.

Di kawasan Flores, moke adalah simbol adat, pergaulan, dan persaudaraan. Menenggaknya tidak di depan minimarket seperti halnya orang kota meminum bir—atau di bar—namun di rumah sendiri sambil berkumpul dengan handai taulan.

“Sampai bosen aku minum moke,” aku Nelson. Pada hari-hari pertama ia masih senang mendapat suplai minuman keras tak terbatas. “Cangkirnya digilir,” ia bercerita. “Terus diputar sambil ngobrol-ngobrol.” Beberapa hari kemudian bosanlah ia.

Menceritakan itu ia terkekeh.

Menghabiskan Malam di Bawah Mercusuar

Sedang asyik bercerita, seorang pria paruh baya bertopi ikut bergabung dengan kami, yang ternyata adalah kerabat Nelson. Ia memperkenalkan diri sebagai Sylvester Nilan. Ternyata Om Nilan tinggal di Jogja. Mereka—Nelson, ayahnya, dan Om Nelson—sedang menunggu kapal ke Surabaya disiapkan. Menurut jadwal mereka akan berangkat pukul 24.00 WITA.

Ketika saya korek, ternyata ia tinggal tidak jauh dari tempat saya. Entah ia memang aslinya suka mengobrol atau karena alasan emosional—kami sama-sama tinggal di Jogja—mengalirlah cerita-cerita heroik dari Om Nilan. Ia bernostalgia tentang hari-harinya ketika muda, yang bepergian melaut dari satu pulau ke pulau lain, sampai pada akhirnya hatinya tertambat pada seorang dara Jogja. Yang membuat saya terkagum-kagum, ia sudah pernah ke semua provinsi kecuali empat—saya lupa provinsi mana saja.

Waktu berjalan cepat. Matahari perlahan undur diri untuk beristirahat di barat. Warna langit berganti dari biru ke jingga, sebelum memerah dan menjadi gelap. Gemintang bermunculan seperti pemain teater yang serentak keluar dari balik tirai hitam rumah opera. Akan halnya langit yang berkilau semarak, suasana pun semakin hidup di ruang tunggu dermaga, riuh oleh calon penumpang yang terus berdatangan. Anak-anak kecil yang berjualan kardus semakin bersemangat menjajakan dagangan mereka. Semakin banyak permintaan, mereka akan semakin leluasa memainkan harga.

Sekitar pukul 10 malam calon penumpang Dharma Kencana VIII mulai bersiap-siap untuk menaiki kapal. Kardus dan koper berisi pakaian mulai dipanggul di atas bahu-bahu. Para orangtua membimbing erat tangan kecil anaknya agar tidak tertelan pusaran manusia. Perlahan mereka bergerak ke tangga-tangga kapal, berlomba-lomba menjadi yang tercepat agar bisa mendapat tempat yang nyaman di dek. Nelson dan Om Nilan pun pamit. Kami berjabat tangan dan saling mengucap salam perpisahan.

Pada perjalanan kali ini saya memang tidak membawa tenda—tenda kesayangan saya patah ketika terkena badai di Gunung Lawu beberapa bulan sebelumnya—namun saya membawa sebuah ayunan (hammock) hasil pinjaman dari seorang kawan. Tenda dan hammock punya kelebihan masing-masing, namun kekurangannya sama: sama-sama menarik perhatian jika digunakan di tengah-tengah orang banyak. Badan saya sudah lumayan pegal. Dari tadi diam-diam saya sudah melayangkan pandang ke penjuru dermaga, memilih-milih tempat paling pas untuk berayun.

Pilihan itu jatuh pada mercusuar kecil di pojok dermaga. Bentuknya tidak seperti mercusuar tinggi dan kokoh yang menjulang di Tanjung Kelayang, yang ini hanya seperti tower kecil yang terbuat dari palang-palang besi yang disusun. Lebih ekstrem lagi, ini hanya seperti menara tandon air yang dilengkapi dengan lampu yang bisa berputar—seperti ambulans—di bagian pucuk.

20140830_083427

Maka ketika orang-orang sedang sibuk mengantre masuk kapal, saya membongkar ransel untuk mengeluarkan hammock. Memasangnya gampang. Saya hanya perlu mencari dua palang melintang berjarak sekitar tiga meter, mengikatkan tali anchor, lalu mengaitkan kedua ujung hammock itu. Sejenak saja saya sudah berayun-ayun di bawah mercusuar. Sepatu saya pakai, ransel 45 liter itu saya bawa serta berayun-ayun, saya jadikan sandaran kaki.

Sebelum tidur saya membeli seporsi nasi bungkus—atau dua, saya lupa—sebab rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali saya makan nasi. Tidak ada kondisi yang lebih bikin mengantuk daripada perut kenyang dan badan yang diayun-ayun. Kedua ujung hammock itu saya tarik agar terhindar dari terpaan angin malam. Malam itu saya tidur pulas sekali, tanpa mimpi.

Lubang di Bukit Siguntang

Langit sudah biru ketika saya bangun, padahal matahari baru saja muncul. Sisa-sisa bintang berkemas untuk sejenak mundur dari kolong langit. Tapi kapal Dharma Kencana VIII yang seharusnya telah berangkat tadi malam masih saja tertambat di dermaga. Persiapannya pasti baik sekali sampai-sampai memakan waktu sehari semalam. Jika kapal itu saja masih belum berangkat, jadwal keberangkatan Bukit Siguntang pasti akan molor juga sebab dalam tiket tertera berangkatnya—kalau tidak salah—pukul 9 pagi. Pukul 6 pagi kapal itu baru angkat sauh dan mengarung ke barat.

Ketika tidak berada di kamar, saya selalu merasa canggung di pagi hari. Barangkali energi pagi begitu dahsyat sampai-sampai saya bingung harus melakukan apa. Untuk menghabiskan waktu, saya berjalan ke platform kayu di sebelah barat dermaga, tempat beberapa orang duduk santai sambil menatap cakrawala. Anak-anak pantai tampak ceria mendayung perahu-perahu kecil mereka di atas laut sebening kristal—tak perlu mengeluarkan alat snorkling untuk dapat melihat ikan dan terumbu. Kemudian mereka menjadi riuh sebab orang-orang mulai melempar koin ke laut. Anak-anak dengan kulit terbakar matahari itu bersemangat sekali menyelam, berlomba satu sama lain, demi sekeping uang logam.

Klakson kapal membahana dari kejauhan ketika matahari sudah lumayan tinggi. Semula Bukit Siguntang hanya tampak sebagai titik di horizon, kemudian ia membesar dan membesar secara sangat perlahan. Saya merasa seperti sedang melihat adegan film yang sengaja dibuat lambat. Orang-orang yang semula berdiri, bersemangat menunggu kedatangan kapal dari Kupang itu, satu per satu duduk kembali sebab kapal yang dinanti tak kunjung sandar. Saya bahkan menduga jangan-jangan penumpang mesti menumpang sekoci untuk ke kapal.

Begitu berlabuh, Bukit Siguntang langsung memuntahkan penumpang yang tampak lega setelah lama tak menginjak daratan. Seperti juga calon penumpang lain, saya berkemas, mengangkat ransel, dan masuk ke dalam arus. Dari dua tangga masuk, saya pilih yang sebelah buritan. Secara mengejutkan, orang-orang tidak saling mendorong. Semua sadar, saling menunggu giliran. Toh kapal itu tidak akan pergi begitu saja ketika para penumpang masih sibuk meniti tangga.

20140830_084741

Setiba di dek saya buru-buru mencari tempat paling nyaman untuk menggelar matras. Penumpang yang mengantongi tiket wisata seperti saya—yang dikategorikan sebagai non-kelas—tidak diberikan tempat khusus di dek bagian dalam. Kebanyakan dari kami memilih ‘menggelar lapak’ sepanjang susuran dek luar, berteman hawa panas dan dingin. Tidak masalah, sih. Asal tidak hujan. Selama perjalanan sekitar 16 jam menuju Makassar itu, ransel saya taruh di samping kios yang menjajakan rokok, makanan, dan minuman ringan. (Mereka menjualnya dengan harga yang tak masuk akal.)

Konon kapal besar seperti ini dilengkapi fasilitas hiburan seperti bioskop dan diskotik. “Kau harus coba, Jo,” ujar kawan bernama Syukron suatu ketika, memanasi saya untuk mencoba menonton film di bioskop kapal Pelni. Lahir di Jayapura—atau Abepura, saya lupa—ia hijrah ke Jawa menumpang kapal Angkatan Laut RI setelah sekolahnya hangus terbakar saat kerusuhan Papua. Jadi soal menumpang kapal kawan saya yang satu ini adalah veteran.

Maka ketika akhirnya terdengar pengumuman bahwa sesaat lagi sebuah film akan diputar—film Jepang bergenre dewasa dan diumumkan lengkap dengan sinopsis yang menggoda—saya langsung berlari mencari bioskop. Harga tiketnya sama seperti tiket Studio 21 pada tahun pertama saya kuliah di Jogja dulu: 15 ribu. Tiket disobek dan saya diarahkan ke sebuah lorong yang berujung di sebuah pintu kecil yang sedikit terbuka. Semua, dinding dan pintu, dicat putih. Dari dalam cahaya aneka warna berkelebat di antara kelam.

Begitu masuk, film sudah mulai diputar dan orang-orang sedang khusyuk menonton. Tanpa malu, suara desahan dan erangan membahana dari speaker. Karena kursi bagian depan sudah penuh, saya naik undakan ke bagian belakang. Kursi-kursi di bioskop itu masih kalah bagus dibanding kursi tamu ngunduh mantu genre piring terbang. Sekelebat saya dapat melihat bahwa layar bioskop itu adalah layar gulung proyektor seperti yang lazim ditemukan di ruang kuliah. Filmnya sendiri diproyeksikan lewat proyektor melalui sebuah komputer jinjing.

Saya terus naik ke bagian paling belakang. Gelap sekali di sana sampai-sampai saya tidak bisa melihat kursi. Saya sedang meraba-raba dinding belakang ketika saya dengar ada yang bilang: “Awas…”

Bruk!!!!

Saya tidak sempat mendengar kelanjutan ‘awas’ itu sebab sudah terlanjur terperosok ke lubang diiringi bunyi yang memalukan. Saya sempat kehilangan kendali dan bingung harus melakukan apa: shock! Orang-orang yang sedang khidmat menonton film panas itu—yang di pengumuman disebut sebagai film Jepang namun ternyata film Korea—sejenak terpana. Lalu meledaklah tawa, yang bertahan selama beberapa menit. Setelah itupun sesekali saya masih dapat mendengar suara orang mendengus.

“Tadi saya mau bilang kalau ada lubang,” ujar orang yang mengatakan ‘awas’ tadi berempati, ketika saya sudah keluar lubang. (Dalam hati, sambil mengacungkan jempol, saya bilang, “Nice info, gan!”) Tapi memang baik sekali dia mengulurkan tangan ke dalam kegelapan demi mengangkat badan saya yang malang. Saya cuma meringis sambil mengusap-usap lutut yang luka—celana jeans saya robek di bagian lutut. Setelahnya, setiap ada orang baru masuk, salah seorang penonton di barisan depan akan bilang ‘awas ada lubang’ dan akan diiringi dengan kor tawa bernada mengejek.

Untuk melupakan kenangan di bioskop, seusai film saya menyepi ke Dek 7, tempat orang-orang duduk berkelompok. Mereka bercanda, bernyanyi, atau makan pop mie. Di dek bawah para penumpang sudah seperti sedang di rumah sendiri. Barang-barang digunakan sebegai pemisah antarkapling. Anak-anak yang menangis ditenangkan ibunya. Orang-orang yang kepanasan sibuk mengipas wajah dengan potongan kardus, sambil menatap penuh tanya ke sebuah perahu kecil yang mencari ikan bermil-mil jauhnya dari daratan terdekat. Petugas lalu lalang memeriksa tiket. Dekat saya duduk ada yang kedapatan tidak memiliki tiket. Sempat terjadi adu mulut antara petugas dan penumpang gelap itu sebelum suasana menjadi kembali tenang. Menjelang matahari terbenam, saya naik lebih ke atas. Lewat palang-palang besi saya memanjat ke dek paling atas—hati-hati agar tak terperosok ke jurang yang lebih dalam—lalu menyelinap ke dalam sekoci yang digantung berderet seperti fat boy sedang menunggu giliran untuk dijatuhkan. Angin berhembus sepoi-sepoi. Sebuah garis terang tampak meluncur di langit yang hampir kehilangan rona. Barangkali komet, entah apa namanya. Di tempat-tempat tertentu, seperti di tengah laut, terkadang nama menjadi tak berarti. Engkau tampak, maka engkau ada.

Diskotik

Saya memancing orang yang salah. Ketika angin mulai berhembus agak kencang lewat susuran dek luar Bukit Siguntang, hawa menjadi lumayan dingin. “Dingin-dingin begini enaknya minum moke ya, Pak?” Ujar saya pada seorang bapak paruh baya, sambil memberikan gestur orang sedang menengak minuman keras. Dugaan saya ia hanya akan membalas dengan senyum.

Ia memang tersenyum. Namun selain itu ia juga menyodorkan botol yang dibungkus oleh plastik hitam. Saya seperti sedang menantang preman namun tidak yakin bisa meladeninya berkelahi. Harga diri membuat saya mengangkat botol itu, membuka tutupnya, lalu menuangkan air bening itu ke dalamnya. Sebentar kemudian moke mengalir dalam tenggorokan saya.

Hangat. Dan rasanya berkelas, tidak seperti arak blora yang seperti spritus.

20140830_151229

Agak sedikit malam, bapak itu mengajak saya dan beberapa kawan sesama penumpang untuk masuk ke diskotik. Semula saya enggak—saya biarkan ia masuk sendiri—sebab saya pikir diskotiknya bakal sama dengan yang biasanya ada di kota-kota besar; musik menghentak tidak jelas, orang-orang bergoyang di ruangan yang sumpek.

Namun ketika akhirnya bapak itu keluar lagi dan tampaknya tidak menyerah untuk membujuk kami masuk, saya angkat pantat dari dek untuk mengikutinya masuk ke diskotik yang ternyata sama sekali tidak sesuai dugaan saya.

Ruangannya nyaman, AC-nya dingin, dan penuh dengan meja-meja bundar yang dikelilingi oleh kursi. Lalu di ujung ruangan seorang biduanita bergoyang sambil menyanyi lagu dangdut pantura yang diproduksi oleh organ tunggal. Beberapa orang ikut bergoyang dengan penyanyi itu sambil sesekali menyodorkan uang saweran. Ini bukan diskotik—sampai sekarang pun saya masih bingung memikirkan istilah yang tepat untuk tempat itu.

Namun satu yang pasti; semua orang tampak senang. Bukan hanya yang menyawer saja. Kami yang cuma duduk-duduk di mengelilingi meja saja—tanpa membeli apa-apa—juga ikut senyum dan tertawa melihat orang-orang yang sedang asyik bergoyang di lantai dansa. Tapi keriangan itu hanya berlangsung sampai pukul sebelas malam, ketika dari speaker terdengar pengumuman bahwa pengunjung dipersilakan keluar sebab ‘diskotik’ akan ditutup. Saya pun ikut antrean penonton yang kembali ke dek luar.

Seharian menjelah Bukit Siguntang, saya tumbang. Enak sekali rasanya meluruskan punggung di atas matras aluminium yang hangat ini. Rasanya langkah kaki para penumpang yang lalu lalang di depan saya sudah tak lagi mengeluarkan suara. Saya seperti sedang melihat film bisu. Lalu bak rolling door sebuah toko yang sedang ditutup, kelopak mata saya turun. Selang sebentar saya sudah tidak sadar—tidur pulas.

Yang membangunkan saya adalah suara dua orang yang sedang berbincang—bapak yang memberi saya moke dan seorang laki-kali berkepala botak. Semula saya tidak dapat menangkap obrolan mereka. Setelah sepenuhnya sadar, saya dapat mendengar bahwa mereka sedang membicarakan seorang penumpang yang baru saja kehilangan uangnya. Jumlahnya lumayan, sekitar dua juta rupiah.

20140830_151208

Saya duduk dan ikut dalam obrolan. Dari pria berkepala botak itu saya mendengar cerita lain soal penumpang yang kehilangan uang. Sekali waktu pernah ada seorang perantau yang pulang dari Malaysia. Dari Kalimantan, ia naik kapal. Alih-alih menyimpannya di bank, uang hasil kerja kerasnya selama merantau ia masukkan dalam sebuah tas untuk dibawa pulang ke desa. Di atas kapal ia berlagak kaya, ia juga tidak bisa menahan untuk tidak pamer dan mengatakan bahwa ia pulang membawa uang tiga puluh juta.

Ia lengah. Tas berisi uang itupun raib digondol si panjang tangan. Kalap, barangkali tidak sanggup menahan malu akibat sudah sesumbar ke saudara-saudara di kampung, di perairan Selat Karimata yang terkenal ganas sang pemilik tas tanpa pikir panjang terjun dari kapal. Ia lantas abadi dalam cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut oleh para penumpang kapal.

Obrolan berlanjut, cerita silih berganti. Mengobrol seperti masuk ke dalam lubang cacing. Waktu berlalu dengan cepat, tahu-tahu sudah hampir pukul empat pagi. Titik-titik cahaya mulai berpendaran di cakrawala—Makassar. Setelah dua minggu melintasi Nusa Tenggara yang lengang, lampu neon yang menyinari kota Makassar terasa begitu menyilaukan. Matras saya gulung, ransel saya sandang. Setelah mengucap salam perpisahan kepada Bapak Moke dan Pria Botak—yang pertama turun di Balikpapan, yang kedua di Nunukan—saya melangkah menuju petualangan baru.

Menuju Empang

Oktober 21, 2014

Konon dua jenis ferry inilah yang berkeliaran di Selat Lombok: yang lambung kapalnya bergambar lumba-lumba, dan satu lagi yang tidak. “Yang ada lumba-lumbanya lebih bagus biasanya,” Jibi menjelaskan sementara kami melangkah di atas ubin keramik putih ruang tungggu pelabuhan yang sepi dan telantar, seusai menebus dua tiket kapal.

Kebetulan siang itu kami menumpang ferry jenis kedua. Sungguh nyaman di dalamnya. Pengondisi-udara ruangannya terasa. Kursinya empuk meskipun masih dipasang berhadap-hadapan. Hampir tiap pojok dihiasi televisi layar datar yang kali ini memutar film Fast and Furious semasa Paul Walker masih hidup. Mujur sekali memang. Dulu dalam perjalanan pulang ke Jawa seusai roadtrip motor Jawa-Lombok, kami dapat ferry yang mengenaskan; bangkunya kecil, tidak empuk sama sekali, sementara lantainya coklat karatan–bau pula. Di lantai karatan itulah saya menghabiskan setengah malam tidur berselimut kantong tidur. Oleng kanan, oleng kiri, kadang kepala saya berbenturan dengan tiang penyangga kursi.

Baca entri selengkapnya »

Ajaib

Oktober 14, 2014

Meskipun Bali secara administratif masuk wilayah Indonesia, prosedur masuk via laut ke pulau itu agak berbeda; harus memperlihatkan kartu identitas. Saya telah mengisi data sejak setahun yang lalu namun belum menerima hak saya – e-KTP. Kartu identitas yang saya punya hanyalah KTP lama yang keadaannya sudah mengenaskan. Beberapa kali terkena rembesan air setelah berenang, tulisan dalam KTP itu pun menjadi kabur sehingga sulit dibaca.

Maka dinihari itu saya bersiap untuk mengeluarkan paspor jika TNI yang bertugas mengecek identitas tidak menerima KTP itu. Tapi ternyata tidak terjadi apa-apa. Setelah berusaha sedikit keras, tampak dari ekspresinya, tentara itu berhasil membaca biodata saya. Terima kasih pada kacamata yang ia pakai. Baca entri selengkapnya »

Rencana B

September 15, 2014

“Don’t think about what you’ll tell people afterward. The time is here and now. Make the most of it.” – Paulo Coelho, Aleph.

 

Empat menit setelah kereta berangkat, saya baru tiba di Stasiun Lempuyangan. “Sudah, mas,” jawab satpam stasiun ketika saya memastikan sekali lagi. “Sudah berangkat.”

Rencana yang saya susun berantakan sudah. Padahal ini baru perjalanan hari pertama! Dari seminggu yang lalu saya sudah mulai mencorat-coret jadwal di catatan, semacam itinerary sederhana yang detilnya saya sesuaikan begitu rupa dengan anggaran yang saya punya. Dalam angan, hari ini saya akan menumpang Kereta Api Ekonomi Sri Tanjung ke Banyuwangi. Saya hanya perlu duduk manis di dalam gerbong yang kini sudah dilengkapi pendingin ruangan, sesekali barangkali akan membuka Coelho yang saya bawa, sampai tiba di Banyuwangi kisaran pukul delapan malam. Setelah istirahat sejenak di sekitar pelabuhan, mengisi perut yang keroncongan, membiarkan mulut seharian masam merasakan nikmatnya kretek, saya akan menyeberangi Selat Bali dengan kapal roro kemudian sandar di ujung barat Pulau Dewata. Setiba di Gilimanuk, pukul tiga dinihari, saya akan menumpang bis langsung pertama yang bakal mengantarkan saya sampai tepat ke depan terminal keberangkatan Padang Bai. Baca entri selengkapnya »

April

Juli 20, 2014

The night was still young in late April–or early May–when Dimas, Ficher, and I were riding our bikes along the empty Brawijaya St., the main road of Tulungrejo, Pare. Though it was only few minutes past ten, we saw no motor vehicle. It made me feel that I was being left behind by the rest of the people in the world.

Ficher was by himself but I rode along with Dimas. In the cold dark night, our faces were still filled by the reminiscence of laughter from Jendela Mimpi Cafe. We then turned to Dahlia Street. Ficher’s boarding house was not far from the three way junction intertwining the roads of Dahlia and Brawijaya. From its yard, I could see Ficher’s friends were still busy talking in the living room. Baca entri selengkapnya »

Over the fence

Mei 19, 2014

I have never rented a bicycle ever since I arrived here about two months ago. In Pare, everyone rides a bicycle to go to their English classes. I choose not to rent one.

Right now, I am staying in a dormitory named Samudra. Located about one kilometer from Elfast, I have to walk for about 10 minutes to the course everyday. I see it as a work out to exercise my fat belly. Besides, I am always eager to do it because I have to step my feet along a small irrigation canal separating beautiful large green rice fields from the bumpy narrow road of Kemuning street. Also, the fresh air of dawn is too good to be passed. Baca entri selengkapnya »

Lawu

Maret 6, 2014

Barangkali terlalu berlebihan untuk menyebutnya badai. Apalagi saya kurang paham mengenai klasifikasi angin. Namun yang jelas pagi ini angin bertiup teramat kencang. Pohon-pohon cemara di pinggir tebing tak henti goyang. Kabut pembawa dingin terombang-ambing dipermainkan oleh si udara yang bergerak. Meninggalkan jejak berupa putih translusen di Cemoro Kembar, Gunung Lawu. Pos 5 masih berjarak beberapa ratus meter vertikal lagi.

Seolah tak mau kalah, hujan ikut ambil bagian. Di pojok terpal, untuk menampung air Benny menaruh beberapa botol air minum kemasan yang sudah dipangkas bagian atasnya. Akhirnya saya mampu menghayati kalimat “hujan adalah berkah” sebab air meteorit itu turun persis ketika persediaan pemuas dahaga kami semakin menipis. Baca entri selengkapnya »

Rakutak

Januari 25, 2014

Akhirnya kami berlima berbalik arah, kembali menuruni punggungan yang dipenuhi tanaman rumput gajah. Langit telah gelap pekat namun kami urung jua sampai di Danau Ciharus. Hujan semakin lebat, kabut tipis yang nakal menghalangi mata melihat. Tanda-tanda alam itu seakan berusaha memberi pesan bahwa berjalan di malam hari tak akan membawa kami ke mana-mana. “Kalau kata gue sih kita nge-camp dulu di sini,” usul Novel, kawan baru dari Bandung.

Sepakat, tidak satu pun suara protes. Memang begitulah seharusnya ketika tersesat di gunung. Harus satu kepala. Tiap anggota tim harus rela meleburkan egonya ke dalam satu suara bulat. Banyak cincong hanya akan menghasilkan perselisihan. Saya jadi teringat kisah dua orang pendaki Gunung Merbabu, jauh bertahun-tahun yang lalu, yang berselisih paham soal jalan sesaat sebelum mencapai Sabana Pertama. Salah seorang memilih jalur kanan sementara yang lain bersikeras ke jalur kiri. Kata sepakat tak tercapai malah golok yang berbicara. Perselisihan mereka meninggalkan kenangan yang sampai sekarang masih dapat disaksikan para pendaki Merbabu: memoriam. Baca entri selengkapnya »

Monas

Januari 20, 2014

Monas menjadi penanda bahwa sebentar lagi kereta yang saya tumpangi dari Bandung akan tiba di Stasiun Besar Gambir. Kereta Argo Parahyangan itu meluncur di bawah langit Jakarta yang kelabu. Ia perlahan melambat sebelum sepenuhnya menghentikan laju. Para penumpang yang semula duduk berbondong-bondong keluar dari gerbong. Bergegas  mereka–dikejar entah apa–mencari pintu keluar untuk masuk ke dalam dunia masing-masing. Barangkali sudah tak sabar ingin menuntaskan urusan yang telah ditunda perjalanan selama tiga jam.

Saya sendiri segera melangkahkan kaki ke sana, ke monumen raksasa perlambang lingga-yoni yang dibangun pada masa orde lama. Monas memang cuma selemparan batu dari Stasiun Gambir. Sudah bertahun-tahun saya mendamba memasukinya, sejak ayah membawakan oleh-oleh kaos putih bergambar Monas dahulu sekali ketika saya bocah. Selama ini saya hanya bisa melihatnya dari jauh; dari kaca jendela kereta Taksaka dalam perjalanan mudik, dari kaca jendela bis Damri yang mengantar saya ke Soekarno-Hatta. Baca entri selengkapnya »

Lewat Pos Cemara

Desember 20, 2013

“Tutupi pakai mantel!” Pinta saya pada Eka ketika hujan mendadak turun dengan lebatnya, hanya beberapa ratus meter dari pos ketiga Gunung Slamet, Pos Cemara. “Aku ambil flysheet dulu. Kita bikin bivak.”

Dengan sigap Eka, Arta, dan saya membentangkan kain berukuran tiga kali tiga meter berwarna hitam itu lalu mengikatkannya dengan tali rafia kuning ke tiap sudut. Dalam beberapa menit saja kemah darurat bikinan kami siap. Lengkap dengan alas berupa mantel hujan dan parit-parit kecil untuk mengalirkan air. Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 112 pengikut lainnya.