Sehari di Negeri Tembakau

Oktober 17, 2015

Beberapa tahun yang lalu di Kaldera Rinjani, matahari sudah condong ke barat dan stok rokok saya sudah menipis. Tepian Segara Anak masih jauh. Di sisi jalur saya mengistirahatkan kaki bersama beberapa pendaki dari Mataram. Demi menghemat rokok, saya hanya duduk diam melihat pemandangan. Perjalanan masih panjang.

“Rokok, Bang?” Salah seorang dari mereka menawarkan. “Terima kasih,” saya menjawab. “Masih ada, kok.”

“Kita bawa banyak kok, Bang,” ia mengeluarkan sesuatu berbentuk balok. Tidak mungkin batu bata sebab tampaknya ringan sekali. Begitu kertas koran yang membalutnya dibuka, sesuatu yang kusut berwarna coklat menjulur-julur, aroma wangi menguar. Tak salah lagi—tembakau. (Belakangan saya tahu bahwa ia mengeluarkan tembakau seberat 1 tumpih yang ekivalen dengan 2,5 kilogram.)

Penasaran, selembar papir saya ambil, lalu saya tempatkan segaris tembakau di atasnya. Dengan bekal ilmu melinting yang masih cetek, saya gulung tembakau itu sampai siap hisap. Hisapan pertama mengingatkan saya pada aroma rokok putih. Namun rasa tembakau ini lebih kaya; tanpa dicampur cengkeh ia sudah ringan. Sehabis dihisap, rasa manis muncul di pangkal tenggorokan.

“Enak, ya?” Saya tersenyum pada anak-anak Mataram itu sambil mengacungkan jempol. Mereka hanya menjawab dengan tertawa.

Kejadian itulah yang membuat saya tahu bahwa Pulau Lombok adalah salah satu daerah penghasil tembakau virginia. Pencarian-pencarian tentang tembakau juga memperkenalkan saya dengan tembakau senang—varian virginia yang legendanya hanya bisa dikalahkan oleh srinthil dari Temanggung—walaupun sampai sekarang saya belum pernah mencobanya langsung.

Dua tahun kemudian nasib membawa saya ke salah satu gudang tembakau mililk Djarum di Kopang, Lombok Tengah, di jalan lintas yang menghubungkan Mataram dengan Labuan Lombok, untuk mengenal lebih dalam soal industri tembakau di Tanah Sasak itu.

Rutinitas gudang sedang berjalan sebagaimana biasanya ketika saya bersama kawan-kawan melompat turun dari bis. Juru angkat sedang sibuk memuat paket-paket ukuran raksasa berisi tembakau ke dalam bak truk, orang-orang yang entah sedang mengurus apa duduk menunggu dengan sabar di ruang tunggu kantor. Lewat pintu kecil saya mengkuti kawan-kawan yang terlebih dahulu naik ke lantai dua, ke ruang pertemuan memanjang yang cukup besar untuk menampung sekitar tiga puluh orang.

Seorang pria berkacamata lalu masuk lewat pintu samping. Sambil tersenyum ia menyapa kami dengan ramah. Kretek filter dalam kepitan tangan, ia memperkenalkan diri sebagai Iskandar, manajer senior Purchasing Office Djarum di Lombok yang membawahkan 39 karyawan. Umurnya sudah 60 tahun dan setengahnya ia habiskan dalam industri tembakau. Ia biasa dipanggil Pak Haji oleh para petani, sementara di industri rokok ia dijuluki sebagai profesor tembakau.

“Setiap orang adalah marketer,” ujar Iskandar sebelum memutar video promosi Djarum. Dibuka oleh adegan yang menampilkan foto John F. Kennedy, John Lennon, dan Albert Einstein sedang merokok, video itu menampilkan segala sesuatu tentang Djarum dan industri rokok, dari mulai proses penanaman tembakau, pemrosesan, sampai pelintingan dan distribusi. Lazimnya sebuah video promosi, gambar bergerak itu ditutup dengan mozaik seluruh stakeholder tembakau yang sedang tersenyum.

20151003_115131

20151003_115438

20151003_120656

Disclaimer dari Pak Haji itu—bahwa setiap orang adalah marketer dan karena ia adalah orang maka ia juga adalah marketer—membuat saya meyakinkan diri untuk tidak serta merta percaya pada apa yang disampaikannya selanjutnya, setidaknya di kemudian hari saya mesti melakukan kroscek terhadap segala yang diungkapkannya.

Iskandar berkisah tentang tembakau yang sejak dulu sudah menjadi komoditas penting di Lombok. Semula hanya ada tembakau rakyat (native tobacco) yang dikenal sebagai tembakau ampenan, sebab pada masanya Ampenan adalah kota pelabuhan yang menjadi gerbang laut utama Pulau Lombok, meskipun nyatanya tembakau ampenan adalah gabungan dari berbagai varietas.

Singkat cerita, pada awal abad ke-20 bermunculan perusahaan-perusahaan rokok. Puncaknya adalah sekitar tahun 1969 ketika British American Tobacco (BAT) masuk dan membudidayakan tembakau virginia di Tanah Sasak yang letaknya terpaut ribuan kilometer dari Negara Bagian Virginia, Amerika Serikat, tempat tembakau virginia pertama ditanam. Usaha BAT kurang berhasil sebab mereka kurang melibatkan petani lokal yang lebih paham soal iklim Lombok.

Belajar dari kegagalan BAT, Djarum, perusahaan lokal yang berbasis di Kudus, Jawa Tengah, masuk. Mereka menggandeng petani dengan sistem kemitraan. Kerjasama dengan petani dilakukan dari mulai pengadaan bibit, penanaman, sampai pemetikan dan perajinan. Dampaknya, tembakau yang masuk pabrik secara tidak langsung sudah tertapis kualitasnya sehingga kemungkinan untuk ditolak menjadi kecil. Petani pun—yang biasanya menjadi bulan-bulanan swasta dan pemerintah—menjadi jauh dari lingkaran setan jerat hutang.

Model yang begitu berbeda dengan—menurut yang disampaikan seorang kawan—yang diterapkan di Temanggung, di mana petani masih berada di bawah kontrol pengijon. Mendengar uraian Iskandar, saya jadi tertarik untuk bertanya tentang apa sesungguhnya yang terjadi di Temanggung, yang konon memiliki kualitas tembakau kelas wahid—yang bahkan berani disejajarkan oleh Iskandar dengan tembakau asal Amerika Serikat.

Permasalahan di Temanggung, jelas Iskandar, adalah perihal kemurnian tembakau. Oleh karena permintaannya cukup besar sementara produktivitas lahan terbatas, Temanggung hanya mampu mencukupi sepertiga dari kebutuhan, sisa dua pertiga diperoleh dengan cara mencampurnya dengan tembakau dari daerah lain, di antaranya Boyolali. Namun yang membuat saya terkejut, tembakau temanggung tidak cuma dicampur dengan tembakau boyolali, juga dengan tembakau-tembakau dari setidaknya enam daerah di Jawa Timur. Tentu kondisi inilah yang membuat posisi tawar petani menjadi rendah.

***

Sesi tanya jawab berakhir. Saya mengikuti kawan-kawan turun ke gudang tembakau yang terletak bersebelahan dengan kantor. Di depan pintu masuk gudang, banyak orang berkumpul. Sebagian di antaranya petani, lainnya para kuli angkut yang memakai rompi merah. Gancu di tangan, mereka adalah pekerja musiman yang sedang sibuk mengangkat paket-paket tembakau ke atas konveyor. Jika saja tembakau punya jantung, pasti ia sedang deg-degan menunggu giliran grading pertama. Selang sebentar, seorang grader dengan sigap membuka selapis tembakau lalu menorehkan sebaris kode yang berisi informasi tentang ‘kelas’ tembakau.

Saya mengikuti tembakau-tembakau itu ke dalam gudang. Bau anyaman bambu menyengat hidung—aroma yang tidak saya antisipasi. Dalam bayangan saya aroma yang mengambang di gudang tembakau semestinya adalah bau tembakau itu sendiri, bukannya bau anyaman bambu.

Tembakau-tembakau yang masuk disortasi, dipisahkan berdasarkan posisi daun serta kriteria-kriteria lain. Daun-daun yang masih utuh dipisahkan dari daun yang sudah tercabik dan wol-wolan (serpihan-serpihan). Pekerja proses klasifikasi tembakau ini adalah kaum perempuan, kaum lelaki kebagian tugas mengangkat atau memindahkan tembakau dari satu ruangan ke ruangan lain.

20151003_120808

20151003_121119

Mereka yang bekerja di gudang ini hanyalah sebagian kecil dari 30,5 juta manusia Indonesia yang menggantungkan hidup pada industri rokok, dari mulai petani, perajin, pemasar, buruh-buruh wanita yang dengan cermat melinting tembakau, sampai pedagang asongan yang menjajakan rokok di pasar malam.

Seusai proses klasifikasi, dilakukan proses klasifikasi ulang atau reklasifikasi agar tembakau yang keluar dari gudang terjamin mutunya. Pak Haji sempat mengajak kami ke belakang untuk melihat oven tembakau buatan Jepang yang sudah berusia 30 tahun, yang menjadi saksi bisu pasang surut industri tembakau di Pulau Lombok.

Tur itu berakhir di sebuah ruangan tempat tembakau-tembakau di-grade lagi, lalu dipak sebelum melakukan perjalanan panjang lintas pulau ke pabrik Djarum di Kudus.

***

Kelapa muda dingin yang dicampur air jeruk nipis menemani kami berkeliling sekitar rumah Syamsul, pria akhir tiga puluhan yang mencari nafkah sebagai petani tembakau. Ia menggunakan kaos-kerah hitam yang di bagian pundaknya bertuliskan laman web Komunitas Kretek.

Kami berkumpul di pojok sebuah bangunan tinggi yang ternyata adalah oven tembakau. Tersusun oleh batu bata, di bagian atasnya berjejer ventilasi bambu. Tadi, ketika pintunya dibuka, panas menguar sebab suhu di dalam diatur 80 derajat celsius. Daun-daun tembakau yang sedang dikeringkan digantung, warnanya kecoklatan. Pak Dawam, kolega Pak Haji di Djarum, bercerita bahwa pengovenan sendiri bisa berlangsung berhari-hari—antara 5-8 hari, tergantung tingkat kelembaban daun—dan perlu perlakuan cermat dalam mengubah suhunya. Salah sedikit, warna alaminya bisa-bisa tidak keluar. Prosesnya mesti dipantau siang-malam secara bergiliran oleh para pekerja.

Bahan bakar oven adalah cangkang sawit yang dikirim langsung dari Kalimantan. Sebelumnya yang digunakan sebagai bahan bakar adalah minyak tanah, batubara, dan kulit kemiri. Lama kelamaan oleh karena berbagai alasan ketiga bahan tersebut menjadi sukar didapat. Seorang petani bernama Lalu Hatman mencoba melakukan pengovenan tembakau dengan cangkang sawit. Berhasil, ia menularkan caranya ke seluruh Lombok.

20151003_130924

20151003_151144

20151003_150420

Kemudian kami dipersilakan menyantap makan siang. Saya makan di berugaq yang terletak di salah satu sisi halaman rumah Syamsul, disaksikan oleh lumbung padi yang sekarang sudah kehilangan fungsi dan berubah menjadi sekadar ornamen. Hidangan tandas, seluruh partisipan Jelajah Negeri Tembakau II berkumpul di dalam rumah untuk beramah-tamah.

Sukirman, 50 tahun, Kepala Dusun Paok Rengge, Wajagesang, Kopang, Lombok Tengah, duduk bersisian dengan Syamsul di dekat pintu samping. Ia adalah salah seorang petani yang sudah mengecap asam garam industri tembakau. Mulai menanam tembakau sekitar tahun 1988, setelah menikah, ia berhasil mengubah perekonomian keluarga menjadi lebih baik. Dari lahan tembakau seluas 0,2 ha miliknya, sekali ia sudah naik haji, anak-anaknya pun berhasil dikuliahkan.

Dengan runut Pak Kirman menguraikan tahap-tahap penanaman tembakau dari mulai pembibitan sampai proses pemetikan. Sekitar 120 hari setelah pembibitan, barulah pemetikan pertama dilakukan. Sekali masa tanam, pemetikan bisa dilakukan sebanyak 7-8 kali. Antar musim panen, petani biasa menyelingi dengan menanam padi dan holtikultura.

Pascareformasi, sekitar tahun 2000, hampir semua penduduk Paok Rengge menanam tembakau sebab di luar dugaan harga komoditas ini malah naik sampai mencapai 2,5 juta/kuintal. Namun setelah krisis 2010-2011, hanya 20 persen warga yang tetap bertahan di tembakau. Banyak yang lebih memilih untuk menjadi buruh migran ke luar negeri ketimbang menyerahkan nasib pada harga tembakau yang tidak menentu.

Tantangan bagi para petani, selain curah hujan, adalah fluktuasi harga. Agar masing-masing pihak tidak merasa dirugikan, sebelum panen stakeholder industri tembakau di Lombok—petani, gudang, pemerintah—melakukan rapat penentuan harga. Namun, ungkap Syamsul, perwakilan dinas terkait hanya diam saja ketika rapat harga.

***

Jauh sebelum tembakau diintroduksi, suku Sasak telah menjalankan pola hidup bertani. Bermukim di lingkar Samalas (nama purba Gunung Rinjani), bagi mereka gunung adalah sumber kehidupan. Laut hanyalah sekadar tempat jin buang anak.

Zaman berganti, tembakau masuk dan pelan-pelan mengambil peran strategis dalam perekonomian dan kebudayaan Lombok. Reputasi Pulau Lombok sebagai Pulau Seribu Masjid pun sebenarnya merupakan imbas dari pertanian tembakau—ketika industri tembakau sedang semarak dan petani mendapat untung besar, mereka lebih senang mendirikan masjid ketimbang menyalurkan uangnya ke hal-hal lain.

“Saya ini sarjana tembakau,” ujar Syamsul, yang berarti bahwa pendidikannya dari mulai dasar hingga menjadi sarjana dibiayai oleh hasil usaha budidaya tembakau. Tembakau di Lombok sama seperti sawit atau karet di Sumatra atau Kalimantan; tak tergantikan. Setidaknya untuk sementara ini. Ia adalah sumber penghidupan, harapan akan kemajuan.

Namun resistensi terhadap tembakau mulai muncul. Gerakan-gerakan anti-tembakau mulai bergerilya di kota-kota dan menyusup via media sosial. Berlindung di balik alasan kesehatan, gerakan itu luput melihat kenyataan bahwa di bawah payung industri tembakau bergantung puluhan juta manusia; bahwa di gudang-gudang tembakau para pekerja tetap dan musiman bekerja mati-matian; bahwa di pabrik rokok ratusan ribu tenaga kerja wanita bergantian memeras keringat melinting kretek; bahwa tembakau dibudidayakan sendiri di Indonesia tanpa perlu diimpor dari luar negeri; bahwa tembakau sudah menjadi bagian dari sejarah bumi dan manusia Indonesia.

Menurut Syamsul, bisa saja petani mengganti komoditas yang ditanam. Namun mesti dicarikan pengganti yang memiliki harga yang sama atau tidak jauh beda dari tembakau.

Bahwa relativisme berlaku di sini, perlu dipahami; baik bagi aktivis anti-rokok belum tentu baik bagi masyarakat tembakau. Begitu pula sebaliknya. Yang perlu dilakukan adalah mencari titik temu antara kedua pihak.

Sebelum kembali ke Mataram, kami mampir dulu di ladang tembakau Syamsul. Daun-daun tembakau lebar berwarna hijau sungguh kontras dengan tanah coklat tempat ia tumbuh. Tiap lembarnya adalah asa di mana petani menggantungkan harapan akan kemajuan. Beberapa minggu lagi mereka siap untuk dipetik.

Lubang di Bukit Siguntang

Agustus 17, 2015

Dalam sebuah perjalanan yang berlangsung berminggu-minggu terkadang engkau merasa menjadi terlalu terbiasa untuk berpindah angkutan; dari kereta ke kereta, dari bis ke bis, dari kapal ke kapal. Apa yang kau rasakan, apa yang kau lakukan, secara aneh berubah jadi rutinitas. Semua yang awalnya menyenangkan perlahan berubah menjadi biasa, kemudian memuakkan.

Tak ada yang istimewa dari berganti-ganti moda transportasi. Apalagi ketika melihat cahaya lindap di rumah-rumah yang kau lewati di malam hari, dengan siluet orang-orangnya yang tampak nyaman bercengkerama di ruang keluarga, berbagi kisah yang mereka alami sepanjang hari yang keras dan melelahkan. Hangat. Kehangatan yang jauh lebih menenangkan ketimbang sumuk berbalut keringat dalam bis yang melaju di pulau ribuan kilometer jauhnya dari rumah. Baca entri selengkapnya »

Menuju Empang

Oktober 21, 2014

Konon dua jenis ferry inilah yang berkeliaran di Selat Lombok: yang lambung kapalnya bergambar lumba-lumba, dan satu lagi yang tidak. “Yang ada lumba-lumbanya lebih bagus biasanya,” Jibi menjelaskan sementara kami melangkah di atas ubin keramik putih ruang tungggu pelabuhan yang sepi dan telantar, seusai menebus dua tiket kapal.

Kebetulan siang itu kami menumpang ferry jenis kedua. Sungguh nyaman di dalamnya. Pengondisi-udara ruangannya terasa. Kursinya empuk meskipun masih dipasang berhadap-hadapan. Hampir tiap pojok dihiasi televisi layar datar yang kali ini memutar film Fast and Furious semasa Paul Walker masih hidup. Mujur sekali memang. Dulu dalam perjalanan pulang ke Jawa seusai roadtrip motor Jawa-Lombok, kami dapat ferry yang mengenaskan; bangkunya kecil, tidak empuk sama sekali, sementara lantainya coklat karatan–bau pula. Di lantai karatan itulah saya menghabiskan setengah malam tidur berselimut kantong tidur. Oleng kanan, oleng kiri, kadang kepala saya berbenturan dengan tiang penyangga kursi.

Baca entri selengkapnya »

Ajaib

Oktober 14, 2014

Meskipun Bali secara administratif masuk wilayah Indonesia, prosedur masuk via laut ke pulau itu agak berbeda; harus memperlihatkan kartu identitas. Saya telah mengisi data sejak setahun yang lalu namun belum menerima hak saya – e-KTP. Kartu identitas yang saya punya hanyalah KTP lama yang keadaannya sudah mengenaskan. Beberapa kali terkena rembesan air setelah berenang, tulisan dalam KTP itu pun menjadi kabur sehingga sulit dibaca.

Maka dinihari itu saya bersiap untuk mengeluarkan paspor jika TNI yang bertugas mengecek identitas tidak menerima KTP itu. Tapi ternyata tidak terjadi apa-apa. Setelah berusaha sedikit keras, tampak dari ekspresinya, tentara itu berhasil membaca biodata saya. Terima kasih pada kacamata yang ia pakai. Baca entri selengkapnya »

Rencana B

September 15, 2014

“Don’t think about what you’ll tell people afterward. The time is here and now. Make the most of it.” – Paulo Coelho, Aleph.

 

Empat menit setelah kereta berangkat, saya baru tiba di Stasiun Lempuyangan. “Sudah, mas,” jawab satpam stasiun ketika saya memastikan sekali lagi. “Sudah berangkat.”

Rencana yang saya susun berantakan sudah. Padahal ini baru perjalanan hari pertama! Dari seminggu yang lalu saya sudah mulai mencorat-coret jadwal di catatan, semacam itinerary sederhana yang detilnya saya sesuaikan begitu rupa dengan anggaran yang saya punya. Dalam angan, hari ini saya akan menumpang Kereta Api Ekonomi Sri Tanjung ke Banyuwangi. Saya hanya perlu duduk manis di dalam gerbong yang kini sudah dilengkapi pendingin ruangan, sesekali barangkali akan membuka Coelho yang saya bawa, sampai tiba di Banyuwangi kisaran pukul delapan malam. Setelah istirahat sejenak di sekitar pelabuhan, mengisi perut yang keroncongan, membiarkan mulut seharian masam merasakan nikmatnya kretek, saya akan menyeberangi Selat Bali dengan kapal roro kemudian sandar di ujung barat Pulau Dewata. Setiba di Gilimanuk, pukul tiga dinihari, saya akan menumpang bis langsung pertama yang bakal mengantarkan saya sampai tepat ke depan terminal keberangkatan Padang Bai. Baca entri selengkapnya »

April

Juli 20, 2014

The night was still young in late April–or early May–when Dimas, Ficher, and I were riding our bikes along the empty Brawijaya St., the main road of Tulungrejo, Pare. Though it was only few minutes past ten, we saw no motor vehicle. It made me feel that I was being left behind by the rest of the people in the world.

Ficher was by himself but I rode along with Dimas. In the cold dark night, our faces were still filled by the reminiscence of laughter from Jendela Mimpi Cafe. We then turned to Dahlia Street. Ficher’s boarding house was not far from the three way junction intertwining the roads of Dahlia and Brawijaya. From its yard, I could see Ficher’s friends were still busy talking in the living room. Baca entri selengkapnya »

Over the fence

Mei 19, 2014

I have never rented a bicycle ever since I arrived here about two months ago. In Pare, everyone rides a bicycle to go to their English classes. I choose not to rent one.

Right now, I am staying in a dormitory named Samudra. Located about one kilometer from Elfast, I have to walk for about 10 minutes to the course everyday. I see it as a work out to exercise my fat belly. Besides, I am always eager to do it because I have to step my feet along a small irrigation canal separating beautiful large green rice fields from the bumpy narrow road of Kemuning street. Also, the fresh air of dawn is too good to be passed. Baca entri selengkapnya »

Lawu

Maret 6, 2014

Barangkali terlalu berlebihan untuk menyebutnya badai. Apalagi saya kurang paham mengenai klasifikasi angin. Namun yang jelas pagi ini angin bertiup teramat kencang. Pohon-pohon cemara di pinggir tebing tak henti goyang. Kabut pembawa dingin terombang-ambing dipermainkan oleh si udara yang bergerak. Meninggalkan jejak berupa putih translusen di Cemoro Kembar, Gunung Lawu. Pos 5 masih berjarak beberapa ratus meter vertikal lagi.

Seolah tak mau kalah, hujan ikut ambil bagian. Di pojok terpal, untuk menampung air Benny menaruh beberapa botol air minum kemasan yang sudah dipangkas bagian atasnya. Akhirnya saya mampu menghayati kalimat “hujan adalah berkah” sebab air meteorit itu turun persis ketika persediaan pemuas dahaga kami semakin menipis. Baca entri selengkapnya »

Rakutak

Januari 25, 2014

Akhirnya kami berlima berbalik arah, kembali menuruni punggungan yang dipenuhi tanaman rumput gajah. Langit telah gelap pekat namun kami urung jua sampai di Danau Ciharus. Hujan semakin lebat, kabut tipis yang nakal menghalangi mata melihat. Tanda-tanda alam itu seakan berusaha memberi pesan bahwa berjalan di malam hari tak akan membawa kami ke mana-mana. “Kalau kata gue sih kita nge-camp dulu di sini,” usul Novel, kawan baru dari Bandung.

Sepakat, tidak satu pun suara protes. Memang begitulah seharusnya ketika tersesat di gunung. Harus satu kepala. Tiap anggota tim harus rela meleburkan egonya ke dalam satu suara bulat. Banyak cincong hanya akan menghasilkan perselisihan. Saya jadi teringat kisah dua orang pendaki Gunung Merbabu, jauh bertahun-tahun yang lalu, yang berselisih paham soal jalan sesaat sebelum mencapai Sabana Pertama. Salah seorang memilih jalur kanan sementara yang lain bersikeras ke jalur kiri. Kata sepakat tak tercapai malah golok yang berbicara. Perselisihan mereka meninggalkan kenangan yang sampai sekarang masih dapat disaksikan para pendaki Merbabu: memoriam. Baca entri selengkapnya »

Monas

Januari 20, 2014

Monas menjadi penanda bahwa sebentar lagi kereta yang saya tumpangi dari Bandung akan tiba di Stasiun Besar Gambir. Kereta Argo Parahyangan itu meluncur di bawah langit Jakarta yang kelabu. Ia perlahan melambat sebelum sepenuhnya menghentikan laju. Para penumpang yang semula duduk berbondong-bondong keluar dari gerbong. Bergegas  mereka–dikejar entah apa–mencari pintu keluar untuk masuk ke dalam dunia masing-masing. Barangkali sudah tak sabar ingin menuntaskan urusan yang telah ditunda perjalanan selama tiga jam.

Saya sendiri segera melangkahkan kaki ke sana, ke monumen raksasa perlambang lingga-yoni yang dibangun pada masa orde lama. Monas memang cuma selemparan batu dari Stasiun Gambir. Sudah bertahun-tahun saya mendamba memasukinya, sejak ayah membawakan oleh-oleh kaos putih bergambar Monas dahulu sekali ketika saya bocah. Selama ini saya hanya bisa melihatnya dari jauh; dari kaca jendela kereta Taksaka dalam perjalanan mudik, dari kaca jendela bis Damri yang mengantar saya ke Soekarno-Hatta. Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 114 pengikut lainnya