Naik Cambodia Post Minivan ke Siem Reap

Hari kedua di Phnom Penh saya pulang dalam kondisi capek bukan main. Itu muara dari usaha sia-sia saya untuk menemukan pesisir Sungai Mekong yang tampak dekat dalam peta tanpa skala yang saya bawa.

Pagi-pagi sekali hari itu, dari Boeung Kak saya jalan kaki ke Pusat Kota Phnom Penh. Langit biru cerah dan lalu-lintasnya masuk akal untuk ukuran ibu kota negara. Melewati permukiman sepi, saya lalu melipir ke pagar Wat Phnom sebelum tiba di Cambodia Post.

Phnom Penh - Siem Reap

Sebuah biara di Phnom Penh

Dari sana, saya lewat jalan kecil yang berujung di promenade Sungai Sap (Tonle Sap) yang memagari Kota Phnom Penh. Karena tempo hari sudah jalan ke selatan, hari itu saya melanglang ke utara. Saya tergoda untuk menyeberangi Sungai Sap via Cambodia-Chinese Friendship Bridge.

Lagipula, menurut peta laknat itu, ujung jembatan itu berada di channel bar raksasa. Dari sana Sungai Mekong hanya—seolah-olah—selemparan batu. Sepertinya seru juga nongkrong di Mekong. Maka, saya melangkah di trotoar sempit pinggir sungai itu dengan ceria.

Phnom Penh - Siem Reap

Warga lokal sedang nongkrong di pinggir jalan

Phnom Penh - Siem Reap (3)

Becak pink dekat Cambodia Post

Lewat tangga kecil, saya menyelinap ke jembatan yang dari sana garis langit Kota Phnom Penh tampak menawan. Di mana-mana crane tampak sibuk membangun gedung-gedung pencakar langit yang beberapa tahun lagi mungkin mengubah lanskap Ibu Kota Kamboja itu secara signifikan.

Jalan tanpa ujung

Ujung jembatan sepanjang 415 meter itu ternyata sebuah bundaran yang sepi. Di pojoknya, showroom traktor berseberangan dengan pom bensin modern Depot Tela. Saya agak-agak geli membacanya: Depot Tela. Kalau di Wonosari barangkali Depot Tela akan disangka franchise makanan olahan singkong.

Phnom Penh - Siem Reap (4)

Beberapa orang biksu berkumpul di pinggir jalan

Dari Bundaran itu saya nekat terus berjalan ke selatan. Suasana mulai seperti di pedalaman Sumatera. Jalanan berdebu, kanan-kiri ruko atau lahan tidur berlapis semak belukar. Di depan ruko-ruko itu segala jenis lapak digelar—mainan, buah-buahan, sembako. Angkutan pedesaan berupa mobil bak dengan kanopi dan teralis itu mengingatkan saya pada cigak baruak di Padang atau angkutan di Muaro Bungo zaman baheula.

Tapi tak ada tanda-tanda jalan itu mencapai ujung, sementara matahari makin terik. Saya coba mengamati jalan raya, melihat-lihat jika ada tuktuk sewaan yang sedang membawa pelancong—satu dua ada yang lewat. Mendekati tengah hari, setelah berjalan sekitar tiga, empat kilometer dari bundaran, saya menyerah dan balik kanan maju jalan.

Phnom Penh - Siem Reap (5)

Cambodia-Chinese Friendship Bridge yang melintasi Sungai Sap

Sebelum kembali ke kota, saya singgah di mini market Depot Tela untuk mendinginkan badan dan menyegarkan kerongkongan. Malang, tak berapa lama hujan turun lumayan deras, angin kencang juga ikut-ikutan. Jadilah saya nongkrong di Depot Tela selama beberapa jam. Sampai sore.

Ching yang tak tampak batang hidungnya

Keesokan harinya, sekitar jam setengah delapan pagi saya sudah duduk di tangga gedung Cambodia Post. Awak Cambodia Post Minivan sedang mempersiapkan beberapa Toyota HiAce yang akan diberangkatkan pagi itu menuju beberapa tujuan, termasuk Siem Reap (8 USD). Beberapa menit sebelum berangkat, si Ching masih tak kelihatan batang hidungnya.

Phnom Penh - Siem Reap

Suasana bawah jembatan

Mudah-mudahan dia tak dideportasi karena alasan-alasan konyol. Tiga hari yang lalu di bis Saigon-Phnom Penh, dia sukses bikin kenek bis geleng-geleng kepala waktu mengurus blangko imigrasi. Pasalnya, ia tak menemukan visa Vietnam di paspor Ching.

Setengah menggerutu, ia menghampiri Ching untuk bertanya soal ketiadaan visa Vietnam di paspornya. Ching yang ditanyai hanya senyum-senyum saja. Bukannya tak mau menjawab; ia tak mengerti apa yang dikatakan oleh kenek bis itu. Sang kenek akhirnya muntab: “BAGAIMANA CARAMU MASUK NEGARA KAMI TANPA VISA?!”

Phnom Penh - Siem Reap

Lalu lintas padat menuju luar kota

Akhirnya pelan-pelan saya bertanya pakai bahasa tarzan pada Ching. “Where… (gestur) is (gestur) your… (gestur) visa… (gestur)?”

Setelah itu baru Ching mendapatkan momen “aha!” Dia obrak-abrik tas pinggangnya dan keluarlah sekantong plastik transparan berisi kumpulan stiker visa, yang langsung direnggut oleh sang kenek. Saya geleng-geleng mengingat cerita tiga hari yang lalu itu.

Phnom Penh - Siem Reap

Gerobak penjual “mi” (1 USD) di Phnom Penh

Naik Cambodia Post Minivan ke Siem Reap

Lewat sedikit dari jam 8 pagi, Toyota HiAce itu mulai menggelinding ke arah Siem Reap. Tentu saja tanpa Ching. Penumpangnya tak terlalu banyak. Hanya ada beberapa orang. Lebih banyak orang asing ketimbang orang lokal. Sebentar saja keramaian Phnom Penh sudah berganti dengan pemandangan pedesaan.

Sekitar 30 km kemudian, setengah jam perjalanan dari Phnom Penh, Sungai Mekong kelihatan. Untuk ukuran sebuah sungai yang legendaris, wujudnya hampir serupa dengan batang aia tanpa nama di Pariaman. Airnya yang mengalir deras itu coklat pekat, kontras dengan pepohonan dan rumput hijau yang memagarinya. Untung saya tak nekat jalan kaki kemarin. Kalau tidak pastilah sekarang saya masih di pinggir jalan dan terlunta-lunta menyesali nasib.

Phnom Penh - Siem Reap

Minivan Cambodia Post

Rural Kamboja adalah hamparan lahan tidur seperti dalam film The Killing Field. Memang di sana-sini ada sawah, tapi lebih banyak lagi rawa yang dihias oleh pohon-pohon lontar. Di Kampong Svay saya terpana melihat sebuah danau luas, Boeng Prey Pras, yang bentuknya ganjil.

Rumah-rumah yang bergerak di luar jendela itu tampak familiar: rumah panggung. Wujudnya tak jauh beda dari rumah panggung di daerah Sumatera Selatan. Di tiang-tiang rumah panggung itu orang-orang membentangkan hammock untuk bersantai.

Phnom Penh - Siem Reap

Monumen persahabatan Indonesia dan Kamboja

Phnom Penh - Siem Reap

VW kodok merah di halaman Restoran Lim Bunna, Kaengkol

Selain di pom bensin, HiAce itu berhenti sekali lagi di sebuah restoran di Kaengkol. Saya tak makan, cuma ke kamar mandi saja. (Naik bis lintas Sumatera mengajarkan saya untuk menghindari makan di restoran antah berantah seperti ini; pasti mahal.) Saya cuma duduk-duduk saja, kemudian keliling-keliling. Saya agak lama di depan sebuah bangunan kecil berisi dua mobil antik yang salah satunya adalah VW kodok warna merah.

Tropical Breeze dekat Wat Damnak

Sekitar jam 2 siang minivan itu berhenti di Cambodia Post pinggir Sungai Siem Reap. Dari sana saya jalan kaki ke guest house Tropical Breeze (yang saya temukan waktu dapat akses internet gratis di Phnom Penh) di dekat Wat Damnak.

Phnom Penh - Siem Reap

Siem Reap yang sepi

Pusat kota Siem Reap itu sepi—saking sepinya ada yang naik skateboard di tengah jalan—dan teduh. Rasanya, kalau saja saya tak menyandang ransel besar, mau saja saya leyeh-leyeh di salah satu bangku taman atau di atas rumput hijau yang menyelimuti pematang Sungai Siem Reap itu. Trotoarnya juga nyaman sekali untuk jalan kaki.

Saya belok kiri di perempatan Old Market, melintasi jembatan, lalu mengambil jalan ke kanan melewati Wat Damnak. Tropical Breeze tak jauh dari pertigaan kecil di ujung Jalan Wat Damnak. Ketika tiba di penginapan itu, saya agak nanar mendapati sebuah lubang menganga sebesar halaman rumah. Kuburan massal? Tapi era Pol Pot ‘kan sudah lama berlalu…

Phnom Penh - Siem Reap (14)

Dua orang biksu sedang berjalan di trotoar Siem Reap

“Kita mau bikin kolam renang di depan,” jelas seorang pemuda bertopi yang menyambut saya (setelah saya menyeberangi jembatan triplek sampai ke beranda penginapan itu). Saya lega mengetahui bahwa lubang besar itu bukan liang lahat.

Resepsionisnya bilang mereka punya dorm 4 USD. Tapi karena saya walk-in, harganya jadi 5 USD. Setelah paspor saya difotokopi, saya dipandu ke atas, ke dorm room 406. Ruangan itu berisi 3 bunk bed (6 tempat tidur). Air-con bikin ruangan itu lumayan dingin (kontras sekali dengan hawa panas di luar).

Phnom Penh - Siem Reap

Bundaran dekat Wat Damnak

Ketika saya masuk hanya ada seorang cewek Kaukasian yang sedang tidur di dipan bawah yang sejajar dengan pintu masuk. Terlalu lelah untuk langsung jalan-jalan keliling Siem Reap, saya naik ke salah satu dipan atas, mengeluarkan kain pantai bermotif gajah milik Nyonya, kemudian berbaring selama beberapa jam.

Iklan

The Country with Two Currencies

Soon as the last passenger sat in his seat, our bus dashed through the neutral zone separating Vietnam and Cambodia. The atmosphere was somehow changing. One minute later, when the bus finally reached the immigration post of the Kingdom of Cambodia, all of the passengers were ordered to get off.

Right beside the bus’s front door, two immigration officers had stood up, ready to retrieve our passports. I gave my passport suspiciously, so did Ching, a 27-year-old Chinese citizen who sat beside me on the bus. We entered the immigration post. Crossing the whole length of it, we ended up at the other end of the building—with no explanation whatsoever and no passport in our hand. Baca lebih lanjut

Naik Kereta dari Thailand ke Malaysia

Bis itu berhenti dekat Pos Imigrasi Poipet, Kamboja. Saya masih terkekeh mengingat lelucon si Milad. Si botak berkacamata mirip gitaris System of a Down itu tadi memamerkan paspornya.

“Kadang petugas imigrasi curiga lihat pasporku. Soalnya fotonya beda sama penampilanku sekarang,” ia mengelus-elus kepala plontosnya. Di paspor, ia berambut tapi tak berjanggut. Sekarang berjanggut tapi tak berambut. “Jadi aku balik saja paspornya, terus bilang: ‘Nih saya yang sekarang.’” Baca lebih lanjut

The Breathtaking Mount Prau

The concrete passage soon became natural path with vegetable farms on the sides. What was planted I couldn’t see; the sky was still dark though. It was 2 am, way too early for the light to come. Above Dieng Plateau the wind never stopped shooing every clouds covering the pale moon and glittering stars. The valley was decorated with high columns of solfatara, illuminated by mellow lamps of geothermal power generator. Yellow lights emanating like fireflies from houses dwelling in the old valley below beckoned a hiker like me to come down and take shelter on its warmth, comfort, and stability—it is natural though for a hiker to regret his decision right after he takes his first step to scale a mountain, yet as he walked his way the feeling would peter out.

The lane ended to give way to a cobblestone road, which was even more difficult to walk on than the previous. Though it was less steep than the dirt road, the moss growing on the stones made it more slippery. My feet felt heavy; my stomach was empty. Yesterday, both Roiz and I only ate twice—once in the morning, then at 8 pm at Eko’s. While hiking, a heavy rucksack and an empty stomach weren’t a good combination—trust me! To make it worse I didn’t jog or do any other sports before starting this journey. I used to then—during one or two weeks before hiking I’d run or swim to put my lungs together. Consequently, my right-head felt warm and throbbing, cold sweat started falling down from my temples. I had already lost my breath while the journey was still young—I hadn’t even reached the first shelter yet. Baca lebih lanjut

Sehari di Negeri Tembakau

Beberapa tahun yang lalu di Kaldera Rinjani, matahari sudah condong ke barat dan stok rokok saya sudah menipis. Tepian Segara Anak masih jauh. Di sisi jalur saya mengistirahatkan kaki bersama beberapa pendaki dari Mataram. Demi menghemat rokok, saya hanya duduk diam melihat pemandangan. Perjalanan masih panjang.

“Rokok, Bang?” Salah seorang dari mereka menawarkan. “Terima kasih,” saya menjawab. “Masih ada, kok.” Baca lebih lanjut

Lubang di Bukit Siguntang

Dalam sebuah perjalanan yang berlangsung berminggu-minggu terkadang engkau merasa menjadi terlalu terbiasa untuk berpindah angkutan; dari kereta ke kereta, dari bis ke bis, dari kapal ke kapal. Apa yang kau rasakan, apa yang kau lakukan, secara aneh berubah jadi rutinitas. Semua yang awalnya menyenangkan perlahan berubah menjadi biasa, kemudian memuakkan.

Tak ada yang istimewa dari berganti-ganti moda transportasi. Apalagi ketika melihat cahaya lindap di rumah-rumah yang kau lewati di malam hari, dengan siluet orang-orangnya yang tampak nyaman bercengkerama di ruang keluarga, berbagi kisah yang mereka alami sepanjang hari yang keras dan melelahkan. Hangat. Kehangatan yang jauh lebih menenangkan ketimbang sumuk berbalut keringat dalam bis yang melaju di pulau ribuan kilometer jauhnya dari rumah. Baca lebih lanjut

Menuju Empang

Konon dua jenis ferry inilah yang berkeliaran di Selat Lombok: yang lambung kapalnya bergambar lumba-lumba, dan satu lagi yang tidak. “Yang ada lumba-lumbanya lebih bagus biasanya,” Jibi menjelaskan sementara kami melangkah di atas ubin keramik putih ruang tungggu pelabuhan yang sepi dan telantar, seusai menebus dua tiket kapal.

Kebetulan siang itu kami menumpang ferry jenis kedua. Sungguh nyaman di dalamnya. Pengondisi-udara ruangannya terasa. Kursinya empuk meskipun masih dipasang berhadap-hadapan. Hampir tiap pojok dihiasi televisi layar datar yang kali ini memutar film Fast and Furious semasa Paul Walker masih hidup. Mujur sekali memang. Dulu dalam perjalanan pulang ke Jawa seusai roadtrip motor Jawa-Lombok, kami dapat ferry yang mengenaskan; bangkunya kecil, tidak empuk sama sekali, sementara lantainya coklat karatan–bau pula. Di lantai karatan itulah saya menghabiskan setengah malam tidur berselimut kantong tidur. Oleng kanan, oleng kiri, kadang kepala saya berbenturan dengan tiang penyangga kursi.

Baca lebih lanjut