Sleeper Bus dan Whiskey Lao Hangat di Luang Prabang

Selama di Luang Prabang, saya berbagi kamar inn dengan dua bersaudara dari Prancis, T dan B. T yang kurus, brewokan, dan berambut pirang setahun lebih tua dari saya. Sementara B, sang adik yang berambut hitam, usianya belum genap seperempat abad.

Perkenalan kami terjadi sore hari di Vientiane yang sepi, di bangku deretan belakang sebuah bis kota trayek Talat Sao-Northern Bus Station. Kala itu mereka baru tiba dari Thailand lewat gerbang Friendship Bridge, sementara saya sudah tiga hari di Laos.

Semula, mereka berdua hendak langsung ke Luang Namtha, sebuah provinsi di bagian utara Laos yang berbatasan langsung dengan Burma di barat. Tapi, setiba di terminal, karena perjalanan ke sana bisa makan waktu 24 jam, mereka memilih untuk transit dulu beberapa hari di Luang Prabang.

Di terminal, kami membeli satu-satunya tiket yang tersedia untuk senja itu, yakni tiket bis malam kelas sleeper yang harganya paling mahal. Kalau ada pilihan yang lebih terjangkau, sebenarnya saya lebih condong ke bis kelas bawah. Tapi, petugas di loket, entah karena memang sudah tidak ada atau karena kami F alias falang alias foreigners, hanya memberikan pilihan bis kelas atas.

ruang tunggu Northern Bus Terminal, Vientiane
Ruang tunggu Northern Bus Terminal, Vientiane

Sambil menanti jadwal keberangkatan, kami mengobrol ngalor-ngidul di bangku tunggu. Begitu lapar, kami pindah ke meja makan sebuah kios di terminal dan memesan mi beras (rice noodle), makanan sejuta umat di Laos. Meja panjang yang kami kuasai agak fancy. Kursinya, seingat saya, adalah potongan pohon raksasa yang dicat hitam seperti di PASAINS. Kokoh. Mungkin perlu sepuluh orang lebih untuk mengangkatnya.

Terminal bis itu dari luar kelihatan lumayan megah. Dalamnya agak-agak usang. Atapnya tinggi seperti gudang. Ada blower mekanik di atap seng karatan yang berputar-putar dipermainkan angin, kadang kencang, kadang lambat, kadang berhenti.

Tidak terlalu ramai, tapi orang-orang datang silih berganti. Begitu masuk, mereka ke loket, membeli tiket, menunggu, terus, begitu angkutan hendak berangkat, mereka bergerak ke salah satu dari dua pintu di samping loket untuk naik ke minibus HiAce atau bis besar.

Secepat ia datang, secepat itu pula rice noodle itu kami santap. Saya simpulkan santap siang itu dengan sebatang kretek. Aroma Indonesia pun menguar mengisi ruang tunggu terminal Ibu Kota Laos yang lengang.

Jam keberangkatan pun hampir tiba. Kami mengemasi ransel besar masing-masing lalu bergerak ke areal keberangkatan. Dekat pintu depan bis, seorang awak membagikan plastik pada para penumpang. Bukan untuk menyimpan muntahan, melainkan untuk membungkus alas kaki agar kebersihan lantai kabin bis terpelihara.

Sleeper bus jurusan Vientiane-Luang Prabang

Dan betapa kagetnya saya ketika satu tempat tidur dibagi untuk dua penumpang. Ibu-ibu yang sedipan dengan saya histeris mendapati seorang pemuda gondrong tiba-tiba mengambil posisi di sampingnya. Keributan kecil pun terjadi. Saya lalu dipindahkan ke samping B. T, sementara itu, ditempatkan di belakang, sebab ia masih belum rela jauh-jauh dari ranselnya. Ia baru saja dapat pengalaman buruk.

Dan itu terjadi di Indonesia.

Cerita tidak enak dari Indonesia

Ceritanya, suatu hari T dan B sedang menelusuri hutan menuju sebuah air terjun di Pulau Moyo. Mereka terpisah jarak yang lumayan jauh, sekitar sepuluh meter. B di depan, T di belakang. Saat asyik berjalan menikmati suasana, B mendengar abangnya berteriak memanggil-manggil.

Menyangka bahwa T mungkin sedang berhadapan dengan hewan buas, B langsung balik kanan maju jalan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat ternyata T bukan sedang berurusan dengan hewan buas, melainkan dengan makhluk yang lebih buas lagi: manusia. Lima orang pula. T sedang dikepung. Kakak-beradik itu sedang dirampok.

“Mereka pakai parang,” kenang B di dipan sleeper bus Vientiane-Luang Prabang. Karena sudah berurusan dengan parang, agar nyawa tidak melayang, langkah paling logis adalah menyerahkan segala yang diminta para penyamun itu. Hidup toh tidak seperti dalam film-film Hollywood. Ransel besar yang mereka bawa pun, yang sarat barang berharga, kemudian berpindah tangan ke para perampok itu.

Suasana kabin sleeper bus Vientiane-Luang Prabang

“Terus, dari sana kalian ke mana?” saya bertanya pada B. Jawaban darinya sungguh tak terduga: “Lanjut ke air terjun.” Saya terkekeh, “Orang gila!”

Setelah menenangkan diri di air terjun, mereka pun kembali ke peradaban. Mereka bingung harus melapor atau tidak. Mujurnya, nasib mempertemukan mereka dengan seorang perempuan yang sukarela memperjuangkan nasib mereka. Mereka ditemani melapor ke kantor polisi. Lama sekali mereka diinterogasi, sampai sekitar sembilan jam, sampai mereka jengah harus disuruh mengulang cerita yang itu-itu lagi. “Tapi kita dikasih makanan dan minuman yang cukup kok sama polisi,” B bercerita.

Setelah mengulang cerita sampai belasan kali, seorang polisi datang sambil memperlihatkan sebuah akun Facebook. Demi melihat profile picture akun itu, bulu roma B langsung merinding mendapati bahwa itulah orangnya. “Kurasa tubuhku membantuku mengenali perampok itu,” ujar B. Ternyata gerombolan itu memang sudah terbiasa merampas, dari mulai sapi sampai mesin kapal. Singkat cerita mereka berhasil ditangkap. Benda-benda yang direnggut dari B dan T pun kembali dalam keadaan utuh.

Dipan sleeper bus Vientiane-Luang Prabang

Saya menghela napas dalam-dalam sebelum berkata pada B, “Aku malu sama kalian, nih, sebagai orang Indonesia.”

“Nggak perlu, lah,” ia merespon. “Ini bisa terjadi di mana saja, terhadap siapa saja.” Ia lanjut bercerita bahwa di kota-kota di Eropa pun kasus perampokan pelancong juga jamak. Tapi, tetap saja saya merasa bersalah mendengar cerita bahwa ada kawan pejalan yang dikepung, diancam dengan parang, dirampas barang-barangnya, dan ditinggalkan dalam keadaan kebingungan di negara saya sendiri.

Pagi Pertama di Luang Prabang, Whiskey Lao, dan Aux Champs-Elysées

Berangkat sekitar jam 6 sore, kami tiba di Terminal Selatan Luang Prabang keesokan paginya sekitar jam 7. Matahari sudah tinggi kala itu.

Untuk menyegarkan badan, kami mampir sebentar di sebuah warung dan memesan kopi hitam Laos yang pekat. Warung itu sederhana sekali, jauh lebih bersahaja ketimbang warung-warung makan di Terminal Purbalingga.

Luang Prabang ternyata jauh lebih dingin ketimbang Vientiane. Jam 7 begini kabut masih menggelantung rendah di langit, memerangkap bumi dalam hawa yang bikin manusia menggemeletukkan gigi. Maka, sebentar saja kopi hitam panas itu tandas dan badan saya mesti mencari cara lain untuk beradaptasi dengan dingin.

Toilet di perhentian bis

Sebelum beranjak ke arah pusat kota untuk mencari tempat menginap, seseorang dengan semangat menghampiri kami.

Ia adalah supir bis yang mengantarkan kami ke Luang Prabang. Ia memegang sebotol cairan berwarna coklat muda. “Whiskey Lao,” katanya sambil menuangkan satu shot whiskey tradisional Laos ke sebuah gelas transparan. Sambil mencerna peristiwa absurd ini—pagi-pagi ditawari whiskey—kami menenggak masing-masing dua shot. Ternyata lumayan untuk menghangatkan badan waktu menerobos dinginnya Luang Prabang.

Dua shot whiskey Lao itu jadi bekal kami jalan kaki dalam selimut dingin ke arah pusat kota Luang Prabang. Mungkin itulah yang bikin kami jalan kaki dengan ceria sambil menyanyikan lagu Aux Champs-Elysées. B yang menyanyi, tentunya, dengan bahasa Prancis. Saya, yang cuma bisa melafalkan “Aux Champs-Elysées,” hanya “na-na-na-na” saja.

Iklan

Hari-hari di Vientiane

Hostel saya berada di jalan kecil di daerah Pakpasak, dekat sebuah kampus teknik. Kalau dihitung-hitung, jaraknya barangkali takkan lebih dari dua ratus meter dari tepian Sungai Mekong.

Dormitorinya di tingkat tiga. Untuk tiba di kasur empuk, saya mesti meniti tangga kayu dari kafe gaul bergaya industrial di lantai paling bawah. Saat saya tiba, hanya ada satu orang di kamar dorm itu.

Read More

Menyeberang ke Laos

Pos lintas batas tak ubahnya seperti bendungan. Ratusan orang yang mengantre ditapis oleh petugas imigrasi, petugas pintu air, kemudian keluar satu per satu lewat sebuah pintu kecil, mengalir seperti air ke negara lain.

Jam 6 pagi (21/11/18) pagar Pos Imigrasi Nong Khai dibuka. Saya ikut dalam arus pelintas batas yang pagi itu bergegas meninggalkan Thailand untuk menuju Laos. Udara penuh suara koper yang digeret dan obrolan dalam bahasa-bahasa asing dari penjuru dunia. Ada beberapa antrean di bangunan itu, dan semuanya penuh.

Read More
naik kereta thailand laos

Naik Kereta ke Nong Khai, Perbatasan Thailand-Laos

Mendengar saya—yang pagi itu dan sebagaimana pagi-pagi lainnya berdandanan bersahaja—mengatakan bahwa akan pergi dari Indonesia untuk melancong hampir satu setengah bulan, petugas imigrasi itu tak percaya. Buluk begini. Apalagi yang saya pegang adalah paspor kinclong. Ia pasti curiga saya mau cari kerja bukannya malala.

Ia menanyakan secara detail saya akan ke mana saja. Tapi, semakin detail saya menerangkan rute yang akan ditempuh, semakin berlipat-lipat mukanya. Dia lalu meminta saya memperlihatkan tiket pulang. Saya sodorkan tablet kepadanya.

Read More
siem reap

Ke Siem Reap tapi Tidak ke Angkor Wat

Dormitory atau dorm di Tropical Breeze itu adalah akomodasi paling mewah yang saya inapi selama bertualang menelusuri Indochina dan Semenanjung Malaysia. Aircon-nya menyala sempurna, menjadikan kamar berisi tiga dipan-tingkat (bunk bed) itu suaka yang nyaman dari Siem Reap yang membara.

Dari kecil saya selalu terobsesi dengan dipan atas bunk bed. Jadi saya pilih tempat tidur bagian atas dipan yang sejajar dengan kamar mandi. Begitu punggung saya menyentuh kasur, mata saya langsung mengantuk. Saya pun tidur selama beberapa jam.

Read More
Phnom Penh - Siem Reap

Naik Cambodia Post Minivan ke Siem Reap

Hari kedua di Phnom Penh saya pulang dalam kondisi capek bukan main. Itu muara dari usaha sia-sia saya untuk menemukan pesisir Sungai Mekong yang tampak dekat dalam peta tanpa skala yang saya bawa.

Pagi-pagi sekali hari itu, dari Boeung Kak saya jalan kaki ke Pusat Kota Phnom Penh. Langit biru cerah dan lalu-lintasnya masuk akal untuk ukuran ibu kota negara. Melewati permukiman sepi, saya lalu melipir ke pagar Wat Phnom sebelum tiba di Cambodia Post.

Read More

The Country with Two Currencies

Soon as the last passenger sat in his seat, our bus dashed through the neutral zone separating Vietnam and Cambodia. The atmosphere was somehow changing. One minute later, when the bus finally reached the immigration post of the Kingdom of Cambodia, all of the passengers were ordered to get off.

Right beside the bus’s front door, two immigration officers had stood up, ready to retrieve our passports. I gave my passport suspiciously, so did Ching, a 27-year-old Chinese citizen who sat beside me on the bus. We entered the immigration post. Crossing the whole length of it, we ended up at the other end of the building—with no explanation whatsoever and no passport in our hand. Read More