Naik Bus Kecil dari Luang Prabang ke Điện Biên Phủ

Dari Luang Prabang, saya akan ke Sapa. Umumnya, untuk ke kota kecil di Vietnam bagian utara itu, para pejalan naik bus dari neraka (the bus from hell) ke Hanoi, terus menumpang bus atau kereta malam ke Lào Cai, lalu mencegat bus ke Sapa. Dari Hanoi, mereka juga bisa naik bus langsung ke kaki Gunung Fansipan itu.

Tapi bagi saya itu berputar-putar, sebab dari Sapa saya nanti akan turun lagi untuk menyusuri belati Vietnam sampai ke selatan. Jadi, saya coba cari alternatif lain.

Sore kedua di Luang Prabang, saat jalan kaki menghangatkan badan ke arah pusat kota, saya lihat tulisan “bus Luang Prabang-Sapa” di sebuah papan yang ditaruh sekenanya di depan kantor biro perjalanan. Penasaran, saya masuk lalu bertanya soal bus ke Sapa.

“Ada,” ujar karyawan yang menerima saya. Harganya lebih murah beberapa puluh ribu kip ketimbang bus Luang Prabang-Hanoi.

Saya gembira, tentu saja.

jadwal bis luang prabang
Papan jadwal bis dari Luang Prabang

Keesokan harinya, dengan bekal beberapa ratus ribu kip, saya kembali ke kantor biro perjalanan itu.

“Wah, kami tidak menjual tiket bus dari Luang Prabang ke Sapa,” ujar karyawan yang sama dengan yang meladeni saya kemarin. “Kami cuma punya tiket ke Điện Biên Phủ.”

“Lalu, dari Dien—apa tadi?—Điện Biên Phủ ke Sapa bagaimana?” saya penasaran.

“Naik bus lagi.”

“Tapi tidak bisa dipesan langsung dari sini?”

Ia menggeleng. Saya mengangguk-angguk, menimbang-nimbang.

Setelah mengucapkan khop chai, terima kasih dalam bahasa Laos, saya beranjak ke arah kota untuk mencari penawaran yang lebih menarik. Ternyata di biro lain sama saja. Mereka tidak menjual tiket langsung ke Sapa, hanya bus ke Điện Biên Phủ, kota kecil di beranda Vietnam, itu pun dengan ongkos yang lebih mahal.

Akhirnya saya kembali ke biro perjalanan yang pertama dan menebus secarik kuitansi pembayaran tiket bus Luang Prabang-Điện Biên Phủ. Alamat saya dicatat. Besok pagi jam 5.45 saya akan dijemput di Khammany.

Beratnya mengucapkan selamat tinggal

Malamnya saya nongkrong bersama B di beranda depan Khammany. Ditemani Beerlao, kami mengobrol ngalor-ngidul—tentang Game of Thrones (yang saat itu musim kedelapannya sedang ditunggu-tunggu), soal betapa mahalnya hidup di Prancis, pengalaman B bertualang di Australia dengan working holiday visa (dia bilang saya mirip temannya, orang Jepang yang suka nyimeng), tentang segala.

Jam sepuluh malam suhu makin turun dan kami naik ke kamar. Saya bilang pada T dan B bahwa besok pagi-pagi sekali saya akan meneruskan perjalanan ke Vietnam. Barangkali ada “goodbye” atau “good luck” yang terucap dalam obrolan itu, tapi saya tak ingat. Dua bersaudara itu masih akan di Luang Prabang sehari-dua sebelum melanjutkan petualangan ke utara, ke Luang Namtha.

Sebelum tidur, saya mengemasi barang bawaan dan menjejalkannya ke ransel gunung. Tak yakin bisa mengumpulkan tekad untuk mandi besok pagi, malam itu saya mandi dulu. Lagian, badan saya lumayan gatal-gatal karena penuh keringat. Dalam keadaan bersih tidur saya pasti akan lebih nyenyak.

Tidur saya memang nyenyak. Tapi, saya bangun lebih dulu dari alarm—mungkin karena terlalu antusias untuk kembali ke jalan. Jam 5.10 pagi saya sudah ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.

almsgiving luang prabang
Para biksu berjubah safron berbaris saat “almsgiving”

T dan B masih tidur di dipannya masing-masing. Saya tak punya hati untuk membangunkan mereka; tak siap mengucapkan selamat tinggal. Tapi, batin saya yakin bahwa suatu saat, entah di mana dan dalam keadaan apa, kami akan dipertemukan kembali. Toh kita sama-sama tinggal di bumi.

Pelan-pelan, saya memutar gagang pintu dan membuka ambang menuju petualangan baru. Dengan langkah yang juga pelan, saya turun ke lobi Khammany Inn. Saya lihat jam di dinding. Belum genap setengah enam. Di depan, sebuah tuk-tuk sudah menanti. Setelah mengecek tiket saya, supir tuk-tuk itu memberi isyarat agar saya naik.

Ketika knalpot tuk-tuk mulai berbunyi, sebaris biksu berjubah safron lewat di depan Khammany. Almsgiving hari ini sudah dimulai. Petualangan baru saya juga sudah dimulai.

Bong

Terminal masih tidur ketika saya tiba. Gemintang masih berkilauan di kubah langit. Sebuah bus besar tujuan Kunming, China, terparkir di pojokan. Bus-bus lain menyebar di segala penjuru terminal. Hawa begitu dingin sampai-sampai saya mesti memasang jaket yang sudah bolong di bagian ketiak.

Setelah hari mulai terang dan calon penumpang mulai berdatangan, loket tiket dibuka dari dalam oleh seorang petugas. Saya ikut mengantre untuk menukarkan kuitansi dengan tiket resmi.

Lewat jam 6 pagi, sebuah bus kecil berwarna kuning tiba—bus yang akan mengantarkan saya ke negara sebelah! Ketika awak bus membuka bagasi bawah, saya langsung menyimpan ransel di sana. Lalu, karena tak tahan lagi dengan suhu udara yang membeku, saya masuk ke bus dan duduk di bangku tunggal dekat pintu tengah.

bus luang prabang dien bien phu
Bus kecil jurusan Luang Prabang-Điện Biên Phủ

Jam setengah 7, bus kecil itu meluncur dari terminal. Udara dingin mulai mengalir dari pintu dan jendela. Saya menggigil.

Tapi, selang sebentar, pintu ditutup. Begitu pintu lipat itu terkunci, alangkah terkejutnya saya mendapati benda seperti bong tersimpan manis di dekat engsel pintu. Ah, mungkin itu bukan bong. Tapi, kemudian, salah seorang awak bis—yang ternyata adalah supir kedua yang kebagian tugas menyetir di daerah pegunungan—membakar sumbunya dan menghisapnya dengan santai. Aroma asapnya seolah-olah mengajak bersenang-senang. Positif—itu bong!

bis luang prabang dien bien phu
Di balik pintu lipat ini ada bong!

Di sebuah pertigaan, beberapa jam perjalanan dari Luang Prabang, barangkali di Pak Mong, bus itu berhenti di depan sebuah rumah makan. Sekilas, tempat itu mengingatkan saya pada pojok-pojok Bangka, Belitung, Sanggau, Sumbawa, atau Pariaman. Tapi, Bangka, Belitung, Sanggau, Sumbawa, dan Pariaman jelas tidak sedingin itu. Hm… mungkin lebih mirip Yalimo di Pegunungan Tengah Papua.

Para penumpang pun turun. Sebagian masuk ke rumah makan, sebagian lagi duduk-duduk atau berdiri-berdiri saja di depan. Sialnya, dalam selimut dingin begini, rokok saya habis. Filter Bastos terakhir saya habis di terminal tadi. Mau beli rokok tidak bisa, sebab kip saya hanya tinggal 1.000 atau 2.000. (Sebungkus Bastos di Luang Prabang 3.000 kip.)

atm laos
Sebuah ATM di kota kecil Laos yang saya lewati

Saya sudah pasrah untuk tidak menghisap rokok sampai Điện Biên Phủ ketika seorang penumpang—yang tadi saya sapa dengan senyum di dalam bus—mengeluarkan sebungkus rokok dan menyodorkannya pada saya. Ia tak berkata apa-apa, hanya tersenyum. Semula saya hendak menolak, sungkan, tapi tak tega juga untuk tidak menerima. Saya pun mengambil satu dari empat batang rokok yang tersisa dalam kotak itu. Dengan mancis—yang juga miliknya—saya nyalakan selinting tembakau Virginia itu.

Pang Hok–Tẩy Trắng, perbatasan sepi Laos–Vietnam

Dari pertigaan Pak Mong, bus itu pun bergerak semakin ke utara. Perlahan-lahan, tanah jadi semakin tinggi dan permukiman jadi semakin sepi.

Ada memang beberapa kota yang agak ramai. Tapi, sisanya adalah pegunungan memanjang bergerigi, padang rumput, dan permukiman-permukiman kecil orang-orang gunung. Berkali-kali, saya melihat orang-orang gunung, dengan pakaiannya yang khas, duduk-duduk mengitari perapian di pekarangan rumah, entah sedang bercengkerama, menghisap bong, atau menyusui bayi.

terminal pak mong laos
Beberapa mobil parkir di Terminal Pak Mong, Provinsi Luang Prabang

Meskipun sempit, sebagian besar ruas jalan sudah mulus. Hanya beberapa bagian yang masih berupa tanah yang dikeraskan (yang akan mengepulkan debu setiap kali dilewati).

Sekitar jam tiga sore, bus berhenti di Pos Lintas Batas Pang Hok, Provinsi Phongsaly. Sepi sekali. Suara-suara peradaban seolah-olah sudah diredam oleh pegunungan yang mengitari Pang Hok. Karena sepi, sekitar setengah jam kemudian bus sudah kembali melaju di antara hutan yang menyelimuti zona netral Laos-Vietnam.

pos lintas batas pang hok laos
Seorang pengendar menuntu sepeda motor ke arah Laos di Pos Lintas Batas Pang Hok, Provinsi Phongsaly
pos lintas batas tay trang vietnam
Pelintas batas berjalan menuju Pos Lintas Batas Tẩy Trắng di Provinsi Điện Biên

Ternyata Pos Lintas Batas Tẩy Trắng, Vietnam, jauh juga dari Pang Hok. Kalau dengan bus saja perlu waktu sekitar 10-15 menit, jalan kaki pasti bisa lebih dari satu jam!

Selain terasa lebih semarak, perbatasan Vietnam lebih canggih dari Laos—setidaknya di Tẩy Trắng sudah ada mesin pemindai (scanner) sehingga petugas tak perlu lagi repot-repot meneliti dan merekam informasi halaman depan paspor secara manual.

Matahari sudah sangat condong ketika bus bertolak dari Tẩy Trắng. Điện Biên Phủ masih sekitar satu jam lagi. Sepanjang jalan, sebagian besar yang saya lihat hanya hutan dan pegunungan tajam bergerigi yang seolah-olah siap melahap matahari.

perbatasan tay trang vietnam
Bis sedang menunggu penumpang keluar dari imigrasi

Lalu, satu per satu jejak-jejak peradaban mulai kelihatan—pabrik (pengolahan semen?), rumah, permukiman, persawahan. Sekitar jam 5, bus memasuki Điện Biên Phủ coret yang sekilas tampak seperti Arosuka, Ibu Kota Kabupaten Solok.

(Belakangan, saya menyadari bahwa hampir di setiap kota di Vietnam ada Jalan Điện Biên Phủ. Điện Biên Phủ rupanya adalah daerah bersejarah. Di sanalah meletus salah satu pertempuran terdahsyat Perang Indochina Pertama, antara tentara Prancis dan pasukan komunis Revolusioner Viet Minh, dari 13 Maret sampai 7 Mei 1954.)

Setengah jam kemudian bus tiba di Terminal Điện Biên Phủ yang bahkan lebih kecil dari Terminal Condong Catur. Perjalanan dari Luang Prabang ke Điện Biên Phủ ternyata lama juga: 11 jam!

Menukar uang di toko emas

Saya langsung bergegas ke loket tiket. Bus malam Điện Biên Phủ–Lào Cai via Sapa ternyata belum berangkat. Sialnya, saya tak punya dong untuk menebus tiket bus. Sebenarnya bisa saja saya membayarnya dengan dolar, tapi rugi banyak sebab selisihnya lumayan jauh ketimbang jika saya membayar dengan dong.

Bersama sepasang pelancong lain yang satu bus dari Luang Prabang, saya berlari-lari kecil ke arah kota untuk mencari tempat penukaran uang. Tak ada; yang tersedia hanya ATM. Lalu, ketika menoleh-nolehkan kepala melihat sekitar, saya menemukan sesuatu yang bikin gembira: toko emas!

dien bien phu
Sebuah jalan kecil di Điện Biên Phủ coret

Deli, sobat saya yang beberapa tahun lalu ke Saigon, pernah bercerita bahwa toko emas di Vietnam melayani penukaran uang.

“Itu ada toko emas,” ujar saya pada sepasang pelancong yang tadi duduk di belakang saya dalam bus. “Kita tukar uang di sana saja.”

Berlari-lari kami ke sana. Saya menukar 50 dolar ke dong. Mereka, dua orang Kaukasian itu, menukar dolar Australia ke dong.

Segera setelah memasukkan lembaran-lembaran dong ke dompet, kami kembali berlari ke arah terminal. Sambil berlari, kami ngobrol basa-basi. Ketika saya sedang asyik ndobos, tiba-tiba mereka bertanya, serempat, “Where are you from?

“Indonesia!” jawab saya bersemangat.

bis dari dien bien phu menuju sapa
Suasana kabin bus menuju Sapa

Dua kawan baru itu ternyata berpacaran—dan mereka bertemu di jalan. Yang cowok berasal dari sebuah kota di selatan Munich, yang cewek dari Belanda bagian timur. Terus, kenapa mereka bisa bawa dolar Australia? Oh, rupanya mereka baru dari Australia, WHV.

Di terminal, kami langsung membeli tiket. Sebelum naik bis, saya mengisi perut dengan bánh mì, lalu mengisi paru-paru dengan asap Thang Long.

Hari-hari di Luang Prabang

“Lucu, ya. Kau biasa makan soto (di negaramu), terus di sini makan omelet baguette. Kami (yang biasa makan omelet baguette) malah makan soto (rice noodle),” ujar T geli saat kami sarapan pertama di Luang Prabang, di sebuah warung selemparan batu dari pusat keramaian.

Memang lucu. Tapi, ya, beginilah manusia. Umumnya, ketika pergi ke tempat-tempat yang jauh dari rumah, orang akan lebih senang merasakan hal-hal yang jarang (atau bahkan mungkin tidak pernah) dijumpai di tempat asalnya.

Read More

Sleeper Bus dan Whiskey Lao Hangat di Luang Prabang

Selama di Luang Prabang, saya berbagi kamar inn dengan dua bersaudara dari Prancis, T dan B. T yang kurus, brewokan, dan berambut pirang setahun lebih tua dari saya. Sementara B, sang adik yang berambut hitam, usianya belum genap seperempat abad.

Perkenalan kami terjadi sore hari di Vientiane yang sepi, di bangku deretan belakang sebuah bis kota trayek Talat Sao-Northern Bus Station. Kala itu mereka baru tiba dari Thailand lewat gerbang Friendship Bridge, sementara saya sudah tiga hari di Laos.

Read More

Hari-hari di Vientiane

Hostel saya berada di jalan kecil di daerah Pakpasak, dekat sebuah kampus teknik. Kalau dihitung-hitung, jaraknya barangkali takkan lebih dari dua ratus meter dari tepian Sungai Mekong.

Dormitorinya di tingkat tiga. Untuk tiba di kasur empuk, saya mesti meniti tangga kayu dari kafe gaul bergaya industrial di lantai paling bawah. Saat saya tiba, hanya ada satu orang di kamar dorm itu.

Read More

Menyeberang ke Laos

Pos lintas batas tak ubahnya seperti bendungan. Ratusan orang yang mengantre ditapis oleh petugas imigrasi, petugas pintu air, kemudian keluar satu per satu lewat sebuah pintu kecil, mengalir seperti air ke negara lain.

Jam 6 pagi (21/11/18) pagar Pos Imigrasi Nong Khai dibuka. Saya ikut dalam arus pelintas batas yang pagi itu bergegas meninggalkan Thailand untuk menuju Laos. Udara penuh suara koper yang digeret dan obrolan dalam bahasa-bahasa asing dari penjuru dunia. Ada beberapa antrean di bangunan itu, dan semuanya penuh.

Read More
naik kereta thailand laos

Naik Kereta ke Nong Khai, Perbatasan Thailand-Laos

Mendengar saya—yang pagi itu dan sebagaimana pagi-pagi lainnya berdandanan bersahaja—mengatakan bahwa akan pergi dari Indonesia untuk melancong hampir satu setengah bulan, petugas imigrasi itu tak percaya. Buluk begini. Apalagi yang saya pegang adalah paspor kinclong. Ia pasti curiga saya mau cari kerja bukannya malala.

Ia menanyakan secara detail saya akan ke mana saja. Tapi, semakin detail saya menerangkan rute yang akan ditempuh, semakin berlipat-lipat mukanya. Dia lalu meminta saya memperlihatkan tiket pulang. Saya sodorkan tablet kepadanya.

Read More
siem reap

Ke Siem Reap tapi Tidak ke Angkor Wat

Dormitory atau dorm di Tropical Breeze itu adalah akomodasi paling mewah yang saya inapi selama bertualang menelusuri Indochina dan Semenanjung Malaysia. Aircon-nya menyala sempurna, menjadikan kamar berisi tiga dipan-tingkat (bunk bed) itu suaka yang nyaman dari Siem Reap yang membara.

Dari kecil saya selalu terobsesi dengan dipan atas bunk bed. Jadi saya pilih tempat tidur bagian atas dipan yang sejajar dengan kamar mandi. Begitu punggung saya menyentuh kasur, mata saya langsung mengantuk. Saya pun tidur selama beberapa jam.

Read More