Idealisme = Mengingkari Keberadaan Sendiri

Wah, judulnya keren (siapa bilang?). Aku tidak akan membahas gesichte idealisme di sini. Aku hanya akan mengungkapkan gagasan tentang idealisme.

Banyak orang menggembar-gemborkan bahwa dirinya idealis. Tapi bagaimana sebenarnya idealis itu?

Hmm.. Dalam sebuah buku yang sedang kubaca – Madilog, Tan Malaka – ada dua paham yang bisa digunakan manusia dalam melihat dunia. Kedua paham tersebut adalah Materialisme dan Idealisme. Kita tidak akan membahas Materialisme di sini. Hanya idealisme.

Misalkan X adalah seorang yang Idealis. Dia hanya akan melihat sesuatu bedasarkan gagasan yang timbul di pikirannya. Misalnya X berpapasan dengan Y. Dia tidak melihat Y. Hanya akan timbul gagasan tentang Y dalam pikirannya. Y sebagai manusia secara fisik dianggapnya tidak ada, hanya sebuah gagasan.

Bayangkan ada seorang idealis lain yang kebetulan bertemu dengan X, misalnya Z. Z bagi X adalah engkau, sedangkan engkau bagi X adalah saya bagi Z. X juga hanya merupakan gagasan bagi Z yang idealis. Nah, pasti kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dengan menjadi seorang idealis. X mengingkari keberadaan dirinya sendiri sebagai benda.

Jadi, kenapa orang idealis selalu diidentikkan dengan kekonsistenan? Yah, sederhana saja. Seorang idealis hanya akan mengemukakan gagasan tentang sesuatu tanpa memperhatikan sesuatu itu sebagai benda. Dia tidak akan peduli apa pendapat orang tentang benda itu karena dia telah terlebih dulu membuat gagasan tentang sesuatu itu. (hehehehehe…)

Generalisasi=hati-hati nyawa melayang..

Seringkali seseorang dibingungkan dan salah kaprah jika orang lain menarik kesimpulan. Banyak sebabnya. Antara lain data yang kurang valid dan banyak, sumber yang kurang bisa dipercaya, atau orang yang berkesimpulan itu kurang bisa dipercaya(lho?). Dan ada satu penyebab lagi, yaitu kesalahan memilih metode yang paling baik dalam menyimpulkan suatu permasalahan.

Dahulunya, para filsuf memakai metode deduksi dalam membuat kesimpulan. Namun setelah metode induksi ditemukan, deduksi tumbang. Alasannya adalah karena metode induksi lebih bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Nah, metode induksi yang sering digunakan ada dua:

  1. Silogisme : metode induksi yang menarik kesimpulan berdasarkan premis umum dan premis khusus yang telah ada sebelumnya. Contohnya : Semua manusia mempunyai tangan, Fuji manusia, kesimpulan : Fuji mempunyai tangan..
  2. Generalisasi : metode induksi yang menghasilkan satu kesimpulan umum berdasarkan data yang ada. Contohnya : X rajin belajar, X juara kelas. Y rajin belajar, juga juara kelas. Z juga rajin belajar dan juara kelas. Dari keterangan-keterangan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan umum yaitu : semua anak yang rajin belajar juara kelas. Tapi apakah semua anak yang rajin belajar juara kelas? Oh, tidak, kawan.

Tentu kita telah memahami metode-metode penarikan kesimpulan. Selanjutnya kita akan mempersempit bahasan kita mengenai metode induksi generalisasi.

Nah, kita harus sangat hati-hati dalam menggeneralisasikan sesuatu. Tidak semua hal bisa digeneralisasikan. Menurutku, ada dua jenis generalisasi berdasarkan akibatnya terhadap nyawa kita sendiri (atau bisa dibilang : salah-salah generalisasi, bisa kehilangan nyawa) :

  • Generalisasi positif : generalisasi yang menyimpulkan kepada yang baik. Pembuat kesimpulan (jika tidak dipanggil malaikat maut) tidak akan kehilangan nyawanya dalam waktu dekat. Contoh : W adalah alumni smansa padang, dia ganteng. X alumni smansa padang, X ganteng. Y alumni smansa padang, juga ganteng, Z juga alumni smansa padang, juga ganteng. Jadi bisa digeneralisasikan bahwa hampir alumni smansa padang ganteng-ganteng. Jadi, aku yang notabene tidak terlalu ganteng, bisa saja masuk ke dalam hampir semua alumni itu. Jelas kesimpulan itu tidak akan menimbulkan kericuhan. (mweheheheh…)
  • Generalisasi negatif : atau bisa kubilang generalisasi ke yang negatif. Pembuat kesimpulan terancam kehilangan nyawa begitu pernyataan diungkapkan. Contoh : Di sebuah kosan cowok berjudul Putra Bejat diketahui bahwa : A adalah penjahat kelamin, B juga penjahat kelamin, C begitu juga, penjahat kelamin, D juga penjahat kelamin. Jika ada yang berkesimpulan tolol bahwa hampir semua penghuni kosan Putra Bejat itu adalah penjahat kelamin, dipastikan si pembuat kesimpulan segera masuk acara BUSER.

Klasifikasi di atas hanya menurut pemikiranku, lho. Gak semua yang lo baca itu bener.. hehe. Nah, sebagai penutup ada beberapa saran yang bisa kuberikan kepada orang-orang yang berencana setelah ini akan menggeneralisasikan sesuatu :

  1. Pahamilah dulu dengan benar apa itu generalisasi.
  2. Berhati-hatilah jika akan menggeneralisasikan sesuatu yang negatif.

Itu saja dulu. Ciao!!

Sebuah Pengakuan : Aku. Belum. Mandi.

Pagi ini sama seperti pagi-pagi lain di bulan Ramadhan. Jam tiga pagi aku sahur. Jam empat shalat Shubuh. Jam empat lewat lima tidur lagi.

Yaps, hari ini tidak ada kuliah. Sabtu libur. Dan aku bangun tidur sekitar jam sebelas siang. Itupun karena si Kliwon mengetuk-ngetuk pintu kosku. Rrrrr… Untung teman sendiri. Kalau orang lain, mungkin rabu malam besok dia masuk Derap Hukum.

So, bangun tidur tadi aku berpikir : siang ini enaknya ngapain, ya? Langsung terlintas di benakku pikiran untuk ngenet. Aku nebeng Kliwon sampai ke kampus. Dan voila!! Aku sudah di depan SIC.

Dengan langkah mantap seperti langkah Colombus sewaktu menemukan benua Amerika, kudorong pintu SIC. Kukeluarkan KTM dan Kartu Pinjam Perpus. Tapi tunggu. Sepertinya ada yang salah…

Mbak-mbak operator SIC senyam-senyum sendiri menatapku.. Kira-kira bunyinya hihihihi.. (jangan dibayangkan suara kuntilanak) Aku berpikir positif saja. Mungkin dia sedang sakit perut, jadinya ketawa-ketawa sendiri (lho?).

Saat itulah pertanyaan yang bisa mengganggu stabilitas keamanaan dunia meluncur dari Mbak operator itu : “Masnya belum mandi ya??

Mbak itu menantapku dengan tampang penuh selidik. Merasa tersudut, aku hanya bisa mengakui dengan tersenyum : “Mehehehehe…he.

Seperti tidak puas dengan pertanyaan tadi, si Mbak menambah pertanyaannya : “Pasti juga belum sikat rambut ya??

Kalau sikat rambut sih, mana pernah aku?? he.. Aku hanya melanjutkan senyumanku yang penuh makna : “Mehehehehehe… hehe..” Seraya menambahkan, “mbak, sttt.. Jangan bilang-bilang orang lain ya.. he..

…….hehe…….

Gaya Endogen dan Eksogen Sangat Berjasa Bagi Kehidupan Manusia

Semua pasti tahu bahwa Bumi ini tidak statis, tetapi dinamis. Hal itu ditandai dengan -salah satunya- banyaknya siklus di permukaan dan di bawah permukaan Bumi. Diantara siklus-siklus itu antara lain adalah siklus Batuan (Rock Cycle) dan daur Hidrologi (siklus air).

Pertanda lain bahwa bumi itu dinamis adalah adanya pergerakan lempeng bumi relatif terhadap lempeng lainnya. Kita telah mengetahui bahwa kerak Bumi (crust) ini terdiri dari retakan-retakan. Retakan-retakan ini disebut lempeng. Hal ini diungkapkan oleh seorang geologist yang bernama Alfred Wegener dalam teorinya yang bernama Continental Drift Theory (Teori Pengapungan Benua).

Setelah mengetahui fakta bahwa Bumi ini dinamis, maka kita bisa menyimpulkan bahwa pasti ada banyak gaya yang terdapat di Bumi. Menurut letaknya, ada dua gaya yang bekerja di Bumi ini : Gaya Endogen dan Gaya Eksogen.

Gaya Endogen adalah gaya yang bekerja di dalam Bumi. Gaya Endogen (kompresi dan tensional) dapat menyebabkan berubahnya struktur geologi bawah permukaan. Lapisan yang semulanya relatif sejajar dengan tanah, bisa saja menjadi melengkung dan menjadi lipatan (fold) akibat gaya kompresi.

Gaya Eksogen adalah gaya yang bekerja di permukaan Bumi. Gaya ini dapat berupa pengikisan-pengikisan oleh air, angin, dan lain-lain.

Untuk lebih memahami Gaya Endogen dan Eksogen, mari kita lihat gambar di bawah ini :

_1.gif

_2.gif

_3.gif

Terlihat bahwa pada awalnya sebelum gaya Endogen bekerja, lapisan itu tampak normal. Namun setelah gaya Endogen bekerja lapisan itu mengalami lipatan dan terbentuklah struktur antiklin dan sinklin. Lapisan yang telah mengalami gaya Endogen ini disebut Morfologi awal.

Lalu setelah lapisan itu terlipat, gaya Eksogen mulai bekerja. Terjadilah pengikisan tanah oleh air (bisa saja disebabkan oleh banjir) sehingga tersibaklah stratigrafinya (morfologi akhir).

Lalu makna apa yang bisa kita simpulkan dari adanya gaya Endogen dan gaya Eksogen ini?

Manusia sangat perlu berterima kasih kepada Tuhan YME karena telah mengadakan kedua gaya di atas. Kesejahteraan manusia sangat bergatung kepada gaya dalam dan luar itu. Kita semua tahu bahwa akumulasi minyak dan gas Bumi biasanya ada pada struktur lipatan antiklin. Oleh karena minyak dan gas bumi itu terkumpul di situ, manusia bisa mengebornya. Bayangkan jika lapisan bumi itu lurus dan sejajar saja. Jasad renik yang telah membusuk dan mengalami proses fisika kimia yang panjang itu pasti tidak bisa kita manfaatkan. Kandungan minyak pasti menyebar. Mustahil mengebornya satu-satu.

Gaya Endogen yang menyebabkan terjadinya lipatan itu juga sangat berjasa bagi pariwisata negara kita khususnya. Daerah pegunungan biasanya dijadikan tempat wisata. Dan itu memberikan manfaat yang besar bagi negara dan masyarakat sekitar.

Begitu juga dengan gaya Eksogen. Setelah stratigrafi suatu daerah tersibak, terlihatlah sumber daya alam, seperti emas dan batubara, yang selama ini terpendam di bawah permukaan.

Jadi jelaslah bahwa gaya Endogen dan Eksogen sangat berjasa bagi kehidupan manusia.

Don’t Try This at Home.. Oke Anywhere!!

Yaps, dont try this anywhere, anytime.

Ceritanya aku pernah mencoba membuat sesuatu di Gunung. Gunung Lawu waktu itu. Berbekal semangat menggebu untuk berpesta pora di gunung, aku dan teman-teman pergi ke salah satu swalayan untuk membeli jagung rebus siap masak.

Akhirnya jagung rebus naas itu terpendam selama satu malam di kulkas temenku.

Paginya kita sama-sama berangkat ke Lawu. Dengan semangat menyongsong puncak.

Di Pos 3, kita sepakat untuk mendirikan camp (pengungsian.. kekekekekeh..). So, kita masak memasak di sana. Campur ini campur itu. Campur mie campur jagung campur sosis. Dan Voila..!! Aku kenyang.

Bekal itu cukup untuk mengantarkanku menginjakkan kaki di puncak gunung Lawu. Namun perjalanan belum sampai di situ, kawan.

Setiba di basecamp, perutku mules. Mulesees banget. Kalau tidak salah aku boker sampai setengah jam (hehe). Jagung-jagung itu keluar semua.

Setelah aku menunaikan hajat, kami kembali ke Jogja via Solo. Malang tak dapat ditolak (iya, lah.. secara Malang itu kan gede..). Begitu kami tiba di stasiun Solo Balapan, kereta Prameks jam 4 sore sudah berangkat. Kecewa pasti.

Tapi, begitu melihat kereta Pertamina melambai-lambai santai dari rel, kami memutuskan untuk menumpang kereta itu sampai Jogja. Voila!! Tiba-tiba kami sudah menjadi penumpang gelap. Begitu sampai di Lempuyangan, loncat!! Hup..!! Aku hanya LUKA BERAT!!

img_0222.jpg      dilarang_menumpang      penumpang_gelap

Hmm.. dari cerita di atas, dapat ditarik dua kesimpulan tentang apa saja hal yang tidak patut ditiru :

  1. Makan jagung basi di gunung. Mengakibatkan boker berjagung.
  2. Menjadi penumpang gelap kereta Pertamina. Bisa kehilangan nyawa tiba-tiba.

Surat Untuk Mama

Untuk Mama tersayang,

Ma, hari ini aku kembali tidak sahur. Ketiduran, Ma. Tadi malam begadang lagi sama temen-temen kos. Dan akibatnya sekarang aku lapar sekali.

Ma, hari ini sepertinya hidupku bahagia sekali. Aktivitasku diawali dengan kuliah Aljabar Linear Elementer (ALE). Dua SKS. Bahagia sekali anakmu ini, Ma. Aku memperhatikan dosen menerangkan dari A sampai Z.

Tahukah Mama bahwa akhir-akhir ini semangat belajarku sedang tinggi? Itu karena sabtu lalu anakmu ini menelpon seorang yang dicintainya, Mama. Sudah satu tahun anakmu ini tidak bertemu dengannya.

Dan tahukah Mama? Hari ini blogku ini mendapatkan komentar pertamanya. Dari seorang blogger ber-nickname Ruthwijaya.. Sungguh sangat mengharukan sekali, Ma.

Sepertinya itu saja kabar dari anakmu saat ini, Ma. Semoga mama selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Amin

Kampus Biru, 20 September 2007

SIC N 097

Sembah sujud, Anakmu..

The Last day in Kosan Lama : Bonbin Apa Kosan??

Ceritanya hari itu adalah hari terakhirku kos di Sendowo. Sedih juga meninggalkan kos itu. Ada sekarung kenangan di sana. Tangis tawa, sedih gembira, semuanya ada di sana. Di kamar nomor 12.

Tapi apa mau dikata. Aku harus pindah besok ke Pogung. Banyak hal yang mengharuskan aku pindah kos.

Sebenarnya bukan aku saja yang pindah. Selain aku, empat orang kawanku juga pindah. Satu orang (sebut saja A*i) pindah ke rumah Bu De nya. Tiga orang lainnya pindah ke kos yang sama denganku.

Seperti yang kubilang tadi, banyak hal yang mengharuskanku untuk mencari kos baru. Penyebabnya antara lain adalah terjadinya friksi antara angkatan 2006 di kos itu dengan anak yang punya kos. Yah, hitung-hitung gencatan senjata lah.

Jadi, sore itu aku mandi di kosan. Mandi wada’ (mandi perpisahan dengan kamar mandi di kosan itu). Lagian, sudah dua hari aku tidak mandi. Pulang naik gunung, sih. Saat itulah peristiwa itu terjadi.. (semua tarik napas)..

Tiba-tiba ada kecoak muncul!!! Masih wajar, pikirku. Kulanjutkan mandi. Byur..!! Byurr..!!! Lalu tiba-tiba lagi muncul sebaris panjang semut. Melambai-lambai dengan mesra dari tembok. Semut merah dan hitam keluar semua. Hmm.. mungkin mereka mengadakan upacara perpisahan buatku. Jadi terharu. Aku masih berpikir positif.

Aku masih mandi dengan wajar ketika seekor lintah terlihat berusaha keras menyeret-nyeret dirinya di tembok. WHIII…!!! Aku kaget lah.. Tapi mau keluar kamar mandi sekarang, tanggung. Selagi aku berpikir begitu, tiba-tiba saja muncul kodok melompat-lompat dari sela-sela bagian bawah pintu..

Langsung tanpa pikir panjang aku handukan dan keluar dari kamar mandi. Begitu masuk ke kamar kos ku, berbunyilah tokek tiga kali. Tok.. kek…3x. Kawan-kawan, ini Kebun Binatang atau Kosan sih??

Catatan perjalanan G. Marapi (2891 m dpl)

Ini adalah pendakian gunung pertamaku. Seingatku, pendakian G. Merapi itu kulakukan pada tanggal 24 – 25 mei 2006. Beberapa hari setelah Ujian Akhir Nasional. O, ya. Pendakian itu hanya kulakukan berdua saja dengan temanku, Eduard GLP.

Minggu-minggu setelah UAN adalah minggu yang sangat membosankan. Penantian akan nasib dan keluh kesah tentang ke mana akan kuliah menghantui remaja tanggung kelas 3 SMA. Termasuk aku. Akhirnya, aku mengajak seorang sahabat, Eduard, untuk naik gunung bersama. Awalnya banyak yang mengatakan akan ikut naik gunung juga. Tapi ujung-ujungnya yang naik cuma kami berdua.

Sebagai informasi, bisa dibilang pendakian itu adalah pendakian paling nekat dalam hidupku. Pasalnya, perbekalan dan perlengkapan pendakian kali itu jauh dari standar. Tidak ada tenda. Yang ada hanya matras dan terpal. Kompor juga tidak ada – rusak sewaktu mengetes di basecamp. Lagipula, aku tidak minta izin kepada Ibuku untuk naik gunung.

Koto Baru

Koto Baru adalah basecamp pendakian gunung Marapi dan Singgalang. Terletak di jalan raya Padang – Bukittinggi dan ditandai dengan masjid besar berkulah yang bisa ditemukan di sebelah kiri jalan jika dari Padang. Di masjid kotobaru itu, para pendaki bisa mengisi veldples dan membeli perbekalan di pasar Kotobaru. Aku dan Eduard berangkat dari Padang ke Kotobaru dengan travel liar. Kami tiba di sana sekitar pukul 2 siang. Setelah packing ulang dan mengecek perlengkapan – kompor tua itu akhirnya rusak, kawan – kami mulai berjalan ke Tower, tempat mengurus perizinan pendakian.

Tower

Kotobaru ke Tower bisa dicapai dalam waktu sekitar 45 menit. Setelah menyebrang jalan, kita akan melewati halaman rumah penduduk dan kemudian melalui ladang kol. Kemudian kita akan menemukan jalan beraspal. Jika mengukuti jalan beraspal itu, kita akan sampai di Tower tempat mengurus perizinan pendakian. Di sini saja napasku sudah ngos-ngosan. Mungkin karena ini adalah pendakian pertamaku. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Pesanggrahan.

Pesanggrahan

Pesanggrahan adalah sebuah tempat datar yang biasa dijadikan tempat camping setiap akhir pekan. Tower – Pesanggrahan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam. Sebelum tiba di pesanggrahan, kita akan melewati aliran sungai dengan air yang sangat jernih. Di dekat aliran sungai itu kami berhenti untuk mengambil air, minum minuman suplemen (copyrighted, gak mungkin gw tulisin namanya) dingin dan shalat Ashar beralaskan matras.

Hutan Paku

Setelah pesanggrahan, medan semakin menanjak. Pendaki akan menyusuri jalan setapak berupa tangga yang terbentuk oleh akar-akar pohon. Hutan di Marapi masih rapat.

Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Belum lama kami berjalan, langsung turun hujan lebat. Akhirnya kami menemukan shelter berupa pohon tua yang bagian bawah pohonnya bisa dijadikan tempat berlindung. Begitu hujan reda – meskipun rutenya jadi becek – kami melanjutkan perjalanan.

Setelah berjalan sekitar 3 jam, pendaki akan sampai di hutan Paku (Pakis). Di sanan kita akan melewati terowongan alam yang terbentuk dari jalinan daun paku. Setelah Hutan Paku, pendaki akan tiba di batas vegetasi (pelawangan).

Cadas

Setelah pelawangan, kita akan sampai di Cadas. Daerah terjal berbatu tanpa pohon pelindung di sekitarnya. Di kanan – kiri kita akan melihat sungai aliran lava yang terbentuk akibat erupsi-erupsi sebelumnya. Pemandangan di Cadas sangat indah. Gunung Singgalang menjulang di Barat. Di belakangnya berdiri malu-malu gunung Tandikek. Di kaki gunung Singgalang sebelah utara, terlihat Ngarai Sianok yang indah. Dan jika memandang ke Barat Laut, akan terliahat gunung Talamau menjulang dengan puncak yang bentuknya seperti tandunk panjang sebelah. Sekitar 45 menit kemudian pendaki akan menjumpai Memoriam pendaki dari SMAKPA Padang yang hilang di Marapi.

Memoriam – Puncak Merpati

Triangulasi gunung Merapi (2891 mdpl) adalah puncak Merpati. Puncak Merpati dapat dicapai dalam waktu sekitar 10 menit dari Memoriam. Puncak Merpati adalah dataran sangat sempit yang sisi dalamnya adalah kawah dan sisi luarnya adalah jurang.

Estimasi waktu pendakian gunung Merapi adalah lebih kurang 6 jam.

Itulah pendakian gunungku yang pertama. Setelah itu, aku seperti kecanduan mendaki gunung.

Penyair Walt Whitman dalam syairnya yang berjudul Song of The Open Road menulis :

now I see the secret of the making

of the best person

it is to grow in the open air

and to eat and sleep with the earth