Langkah (1): Pokoknya ke Timur

16 Juli 2009. Di sinilah saya duduk sekarang. Di sebuah kereta api kelas ekonomi jurusan Banyuwangi bernama Sri Tanjung.

Langkah1
Stasiun Madiun (kiri) dan Stasiun Surabaya Gubeng (kanan)

Langit sudah sangat gelap ketika saya duduk menunggu pesanan mie rebus di gerbong restorasi. Sepi. Wayong, teman mengobrol dari Klaten sampai Surabaya, sudah lama turun. Sialnya obrolan saya dan teman seperjalanan tidak begitu “lancar”. Dalam keadaan seperti ini saya lebih suka menenggelamkan diri dalam pikiran sendiri.

Inilah asyiknya melakukan perjalanan “sendiri”. Kau bebas pergi ke mana saja kau suka. Tentu saja sebelumnya, untuk mempermudah perjalanan, kau harus: browsing sana sini dulu untuk menentukan tujuan, menyesuaikannya dengan budget, dan memikirkan permasalahan yang mungkin muncul serta bagaimana cara mengatasinya.

Awalnya tujuan perjalanan ke timur kali ini adalah ke Bali, Lombok, dan Gili Trawangan. Namun ternyata “hitung-hitungannya” tidak mengizinkan kami untuk menjelajahi ketiga tempat itu sekaligus. Harus memilih antara: Bali saja atau Lombok dan Gili saja.

Setelah dipertimbangkan, Lombok dan Gili diskip saja. Masih banyak tempat bagus di Bali yang belum dilihat: Pura Ulundanu Beratan, Tanah Lot, Kintamani, Jimbaran, GWK, Pura Uluwatu, Sanur…

Saya sedang membayangkan tempat-tempat itu ketika pesanan mie rebus tiba-tiba datang. Sebelum tiba di Banyuwangi Baru, perut yang kosong ini perlu diisi dulu.

(… bersambung)

12 pemikiran pada “Langkah (1): Pokoknya ke Timur

  1. hai, dri. hebat backpacking sendirian. daripada bengong, mendingan mengisi waktu dengan membaca. huehehe…

    asyik deh, dri. aku tunggu kelanjutan kisahmu.
    banda naira? aku juga kepengen ke sana. sayangnya perjalananku di maluku hanya 2 minggu, itu pun padat dengan kegiatan pekerjaan. hiks…

  2. @itikkecil: he.. sayangnya saya sudah balik, tante.. oleh2nya ya cerita saja..😆
    @kidung: oke deh. trims. ntar kalo ke mataram, kita kopdar..
    @pakacil: dulunya saya juga buta arah, paman.. sejak kuliah di jogja ini jadi lumayan terbiasa membaca mata angin..😀
    @marshmallow: saya berdua, uni. sama adik tingkat. sengaja buat sharing biaya perjalanan. hehe.. kemarin untung saya bawa “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels”nya Pram.. tapi keknya kalo di kereta memang enakan ngobrol deh..
    @Catatan Rudy:😆

  3. “Rasi belantik.. itulah timur..”
    [ucapan Weh ‘laki-laki pengeja bintang’ – tetralogi LP]

    uuhh, pembuka yang menggiurkan shige.. bikin penasaran

    sekarang, shige boleh abisin mie rebusnya dulu😀

  4. @nakjaDimande: weh itu luar biasa, bundo. jago melihat bintang…😀
    @sawali: kalau perjalanan ke barat, berarti saya pulang kampung, pak..:mrgreen:
    @huang: jogja lebih oke.. hehe..:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s